Rupiah melemah ke Rp 18.019 per dolar AS pada Kamis pagi. Penguatan dolar AS dan tensi geopolitik Timur Tengah menjadi pemicunya.
PerbesarNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026) pukul 10.12 WIB. (Tangkapan layar Google Finance)
, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menyentuh level Rp 18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan ini juga menandai bahwa rupiah sudah menembus level psikologis.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal yang cukup kuat. Menurut dia, meningkatnya ketidakpastian global dan kondisi geopolitik menjadi pendorong utama penguatan dolar AS.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman, dikutip dari Antara.
Selain faktor geopolitik, sejumlah data ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar juga turut menopang penguatan dolar AS. Data ketenagakerjaan AS yang solid serta meningkatnya aktivitas sektor jasa berdasarkan survei Institute for Supply Management (ISM) memperkuat keyakinan investor terhadap ketahanan ekonomi negara tersebut.
Kondisi ini mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan dan bergerak melemah terhadap dolar AS.
BI Diperkirakan Perkuat Intervensi
PerbesarKaryawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (/Johan Tallo)
Dari dalam negeri, sentimen pasar dinilai belum cukup kuat untuk memberikan dukungan bagi pergerakan rupiah. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang Indonesia masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Meski demikian, Lukman menilai pelemahan rupiah kemungkinan tidak akan berlangsung tanpa batas. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan meningkatkan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar agar tidak bergerak terlalu jauh dari level fundamentalnya.
Menurut dia, posisi rupiah yang kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi mendorong bank sentral melakukan intervensi yang lebih agresif di pasar keuangan.
“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” tambahnya.
Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pasar saat ini, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Ia memprediksi nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Pelaku pasar pun masih akan mencermati perkembangan geopolitik global, data ekonomi AS, serta langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.