KAI akan mempercepat regenerasi armada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek melalui pengadaan rangkaian baru yang didukung Penyertaan Modal Negara (PMN).
PerbesarKAI Commuter mengoperasikan dua rangkaian KRL baru diproduksi PT INKA (Persero). PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengakui armada KRL Jabodetabek yang saat ini beroperasi masih didominasi kereta bekas impor dari Jepang yang telah berusia lebih dari tiga dekade.(Dok KCI)
, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengakui armada KRL Jabodetabek yang saat ini beroperasi masih didominasi kereta bekas impor dari Jepang yang telah berusia lebih dari tiga dekade.
Sebab itu, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan kebutuhan pengadaan KRL baru menjadi penting untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang serta bertambahnya armada yang memasuki masa konservasi.
“Kami sedikit memberikan gambaran bagaimana urgency kebutuhannya untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang, dan bertambahnya sarana KRL yang memasuki masa konservasi,” kata Bobby melansir Antara di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Ratusan unit kereta yang saat ini beroperasi disebutkan telah berusia 34 hingga 41 tahun. Sebanyak 780 unit merupakan armada eks JR East Seri 205 dengan usia 34-41 tahun. Sementara 128 unit lainnya merupakan armada eks Tokyo Metro dengan rentang usia yang sama.
Nantinya, KAI akan mempercepat regenerasi armada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek melalui pengadaan rangkaian baru yang didukung Penyertaan Modal Negara (PMN).
Di sisi lain, armada yang lebih baru terdiri atas 11 trainset atau 132 unit KRL impor dari CRRC China yang berusia kurang dari satu tahun serta tujuh trainset atau 84 unit KRL produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA yang telah mulai dioperasikan.
Menurut Bobby, kebutuhan penambahan armada juga didorong oleh tren peningkatan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. KAI memproyeksikan jumlah penumpang tumbuh sekitar 4 persen per tahun hingga mencapai 437 juta orang pada 2030.
Proyek Pengadaan KRL
PerbesarKRL Commuter Line. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengakui armada KRL Jabodetabek yang saat ini beroperasi masih didominasi kereta bekas impor dari Jepang yang telah berusia lebih dari tiga dekade. Merdeka.com/Imam Buhori
Dia mengatakan realisasi jumlah pengguna pada 2025 bahkan telah melampaui proyeksi sebelumnya. “Di tahun 2025 kemarin realisasinya sebenarnya sudah lebih dari 339 juta (pengguna), yaitu sekitar 357 juta realisasinya,” ujar dia.
Untuk mendukung program regenerasi armada, KAI dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menjalankan proyek pengadaan sarana KRL Jabodetabek senilai Rp 9,18 triliun.
Bobby menjelaskan pembiayaan proyek tersebut berasal dari dukungan pemerintah melalui PMN sebesar Rp 5,3 triliun atau sekitar 58 persen dari total nilai proyek, pinjaman bank sebesar Rp3,69 triliun, serta kas internal KCI sekitar Rp 190 miliar.
Berdasarkan paparan KAI, komponen PMN tersebut terdiri atas PMN 2024 sebesar Rp2 triliun, PMN 2025 sebesar Rp1,8 triliun, serta PMN 2026 senilai Rp1,5 triliun yang masih bersifat proyeksi.
Proyek tersebut mencakup pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL baru dari PT INKA senilai Rp3,85 triliun, tiga trainset atau 36 unit KRL impor dari CRRC Qingdao Sifang Co Ltd senilai Rp830 miliar, delapan trainset atau 96 unit KRL impor senilai Rp2,2 triliun untuk menggantikan program retrofit.
Kemudian, dua trainset atau 24 unit KRL retrofit dari INKA senilai Rp250 miliar, serta rencana pengadaan delapan trainset atau 96 unit KRL baru dari INKA senilai Rp2,05 triliun yang belum dikontrak.
Rincian PMN
PerbesarPara pengguna KRL Jabodetabek pada jam sibuk selama Ramadan 2026. (Dok KAI Commuter)
KAI juga melaporkan bahwa PMN 2024 sebesar Rp2 triliun yang digunakan untuk pengadaan sarana baru dan retrofit telah terserap seluruhnya.
Sementara itu, PMN 2025 sebesar Rp1,8 triliun telah diterima KAI pada 31 Desember 2025 dan diteruskan kepada KCI pada 20 Mei 2026.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp744,46 miliar telah dibayarkan kepada INKA, sedangkan sisanya sekitar Rp1,05 triliun akan dicairkan secara bertahap mengikuti progres penyelesaian pengadaan KRL.
Bobby mengatakan penyerapan sisa dana PMN akan mengikuti jadwal penyelesaian sembilan trainset yang saat ini diproduksi oleh INKA.
“Proyeksinya akan kita spending sesuai dengan progres dari penyelesaian sembilan trainset yang sudah ada di PT INKA sesuai dengan recovery schedule-nya, yaitu diharapkan penyelesaiannya itu di bulan September tahun 2026,” ujar dia.
Pentas Bola Dunia 2026
- Piala Dunia 2026 Masih Milik Negara Eropa dan Amerika Latin45 menit yang lalu
- Nazar Unik Lamine Yamal dan Optimisme Spanyol Raih Gelar Piala Dunia 20262 jam yang lalu
- Klarifikasi Rafael Leao Usai Diganjar Kartu Merah saat Hadapi Chile: Cuma Ingin Bela Rekan Setim2 jam yang lalu
- Apa Alasan Lamine Yamal Selalu Memakai Perban di Tangannya?3 jam yang lalu
- Piala Dunia 2026: Insiden Penembakan di Dekat Markas Inggris di Kansas City Timbulkan Sorotan soal Keamanan3 jam yang lalu
- Prediksi Eks Pemain MU tentang Juara Piala Dunia 2026: Bukan Argentina atau Brasil, Prancis Jadi Favorit3 jam yang lalu
- Update Timnas Brasil Jelang Piala Dunia 2026: Raphinha Akui Belum Capai Kondisi Terbaik3 jam yang lalu
- Timnas Prancis dan Misi ‘Ending’ Bersama Didier Deschamps di Piala Dunia 20263 jam yang lalu
- 2 Pemain Kunci Timnas Maroko Cedera Menjelang Piala Dunia 20263 jam yang lalu
- Maroko dan Gelombang Kebangkitan Negara Afrika Siap Mengguncang Piala Dunia 20263 jam yang lalu
- Menuju Piala Dunia 2026: Inggris Diminta Maksimalkan Ketajaman Harry Kane3 jam yang lalu
- Daftar Skuad Termahal Piala Dunia 2026: Prancis Teratas, Disusul Inggris dan Spanyol3 jam yang lalu
Lihat Selengkapnya
