beritalokal.my.id, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor satu tahun masih sejalan dengan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Karena itu, pemerintah belum melihat adanya alasan untuk khawatir terhadap pergerakan tersebut.
Menurut Purbaya, kenaikan yield pada tenor pendek merupakan konsekuensi dari penyesuaian suku bunga yang dilakukan bank sentral pada instrumen jangka pendek.
“Itu inline dengan BI yang naikin jangka pendek kan? Yang jangka panjang masih turun atau stabil, itu yang paling penting buat saya,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Saat ditanya mengenai langkah stabilisasi di pasar obligasi, Purbaya memilih menyoroti kondisi aktual yang tercermin dari pergerakan yield SBN.
“Lihat saja yield-nya bagaimana. Terkendali, kan?” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan BRI Weekly Economic Update W4 Mei 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI dan diterbitkan pada Selasa (2/6/2026), yield SBN mengalami kenaikan secara selektif pada pekan keempat Mei 2026. Kenaikan paling tajam terjadi pada SBN tenor satu tahun yang meningkat 30 basis poin.
Yield SBN tenor satu tahun bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan beberapa tenor yang lebih panjang. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya tekanan likuiditas jangka pendek yang cukup signifikan di pasar.
Minat Investor Asing
Di sisi lain, minat investor asing terhadap SBN masih relatif terbatas. Hal itu tercermin dari masih terjadinya net outflow investor asing di pasar obligasi pemerintah.
Meski demikian, pasar SBN masih mendapat dukungan dari investor domestik. Porsi kepemilikan bank pada obligasi pemerintah meningkat 0,42 percentage point, sementara kepemilikan Bank Indonesia dan investor asing non-bank mengalami penurunan.
Kenaikan porsi kepemilikan bank tersebut menunjukkan bahwa likuiditas perbankan masih berperan sebagai salah satu penyangga utama stabilitas pasar obligasi domestik.
