PLN Sulap Limbah Sawit Jadi Sumber Energi Listrik

[BeritaLokal], Jakarta – PT PLN melalui anak usahanya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), telah melancarkan inovasi teknis berbasis limbah kelapa sawit yang berpotensi mengubah sumber energi tradisional menjadi sumber daya terbarukan bernilai ekonomi tinggi. Program ini berfokus pada pengembangan bio-compressed natural gas (bio-CNG) dari limbah cair pabrik kelapa sawit, atau palm oil mill effluent (POME), yang sebelumnya hanya dianggap limbah industrial dengan dampak lingkungan.

Dalam upaya mendukung transisi energi nasional menuju net zero emissions, PLN EPI telah membangun kerja sama strategis dengan PT KIS Biofuels Indonesia, perusahaan yang telah mengembangkan teknologi pengolahan POME menjadi bio-CNG yang siap digunakan sebagai bahan bakar gas uap untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTGU). Target awalnya adalah mendukung pembangkit PLTGU Belawan di Sumatera Utara, yang memiliki kapasitas terpasang 1.184 MW dan berkontribusi sebesar 30 persen pada sistem tenaga listrik Sumatera Utara.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa pengembangan bio-CNG bukan sekadar upaya lingkungan, tetapi juga merupakan bagian dari ekosistem ekonomi hijau yang terintegrasi. “Kami melihat peluang besar untuk memperluas pemanfaatan bio-CNG,” katanya. “Dengan kerja sama dengan pabrik kelapa sawit, potensi limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diubah menjadi sumber energi bersih yang bernilai tambah.”

Sumatera Utara, yang menjadi sentra industri kelapa sawit nasional, menjadi kawasan strategis untuk implementasi ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ada 327 perusahaan perkebunan sawit dan 237 pabrik kelapa sawit di wilayah tersebut, menjadikannya sumber bahan baku potensial yang sangat besar. Dengan teknologi yang sudah terverifikasi, limbah cair dari pabrik-pabrik tersebut dapat diproses menjadi biometana, kemudian dimurnikan menjadi bio-CNG yang siap digunakan dalam pembangkit listrik.

Langkah ini tidak hanya berdampak pada penurunan ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi sektor industri sawit, yang sebelumnya hanya fokus pada produksi minyak kelapa sawit. “Pemanfaatan limbah menjadi energi adalah bukti bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi, pengurangan emisi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Hokkop.

Dengan pengembangan ini, PLN EPI berkontribusi langsung pada target nasional dekarbonisasi sistem tenaga listrik. Selain itu, bio-CNG juga berpotensi menjadi sumber energi yang stabil dan andal, mengurangi fluktuasi pasokan energi yang sering terjadi akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan kapasitas pengembangan yang terus ditingkatkan, PLN EPI berharap dapat memanfaatkan potensi energi biomassa nasional untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga 12,6 GW dari limbah kelapa sawit yang belum tersentuh.

Pengembangan ini juga merupakan bagian dari forum nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, yang mempertemukan pemerintah, industri, lembaga keuangan, dan pemilik bahan baku untuk memperkuat ekosistem biometana nasional. Dengan pendekatan multidimensi, PLN EPI menunjukkan bahwa inovasi energi hijau bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kolaborasi, ekonomi, dan tanggung jawab sosial.

error: Content is protected !!