Depresiasi rupiah telah menciptakan efek polarisasi yang tajam dan berdampak ke industri yang mengandalkan bahan baku impor.
PerbesarDepresiasi rupiah telah menciptakan efek polarisasi yang tajam dan berdampak ke industri yang mengandalkan bahan baku impor.
, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memunculkan kekhawatiran terhadap sejumlah sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dan komponen impor.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan depresiasi rupiah telah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Di satu sisi terdapat sektor yang memperoleh keuntungan dari penguatan dolar AS, namun di sisi lain banyak industri domestik harus menghadapi kenaikan biaya operasional yang signifikan.
Menurut Sutopo, industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menjadi sektor yang paling terdampak karena sebagian besar bahan baku maupun komponen produksinya masih berasal dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat.
“Pelemahan Rupiah yang kini menyentuh Rp 18.000 per Dolar AS menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil, di mana industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menjadi kelompok yang paling rentan akibat tingginya ketergantungan pada komponen serta bahan baku impor (high import content),” kata Sutopo kepada, Minggu (7/6/2026).
Kondisi tersebut memicu fenomena imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor, sehingga beban produksi perusahaan ikut membengkak.
“Ketika biaya produksi membengkak akibat fenomena imported inflation ini, margin keuntungan mereka tergerus drastis, karena harga jual ke konsumen domestik tidak dapat dinaikkan secara instan di tengah daya beli yang sensitif,” ujarnya.
Rupiah Berpotensi Tetap Volatil
PerbesarKaryawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (/Johan Tallo)
Dari sisi pasar keuangan, Sutopo melihat peluang rupiah untuk menguji level psikologis Rp 18.000 per dolar AS masih cukup besar dalam waktu dekat.
Meski demikian, Sutopo memperkirakan Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi.
“Kendati demikian, level Rp 18.000 merupakan benteng psikologis dan politis yang sangat krusial, sehingga Bank Indonesia diproyeksikan akan melakukan intervensi ganda secara agresif di pasar spot maupun DNDF guna meredam aksi spekulasi komersial,” pungkasnya.
