beritalokal.my.id, Paris – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras kerusuhan yang terjadi saat perayaan kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) atas Arsenal di final Liga Champions. Ia menyebut aksi kekerasan yang pecah di Paris dan berbagai kota lain sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Saat menyambut para pemain PSG di Istana Elysee pada Minggu (31/5), sehari setelah klub tersebut mempertahankan gelar Liga Champions, Macron mengatakan kerusuhan telah mencoreng momen yang seharusnya menjadi kebanggaan nasional.
“Sayangnya, kita menyaksikan adegan-adegan kekerasan yang tidak dapat diterima di Paris dan kota-kota lainnya sepanjang malam,” kata Macron seperti dikutip dari kantor berita Anadolu. “Itu bukan sepak bola. Itu bukan olahraga. Itu bukan hal yang kita cintai.”
Macron menegaskan bahwa pemerintah akan bertindak tegas terhadap para pelaku kerusuhan.
“Kami tidak ingin melihat hal seperti ini lagi. Sudah cukup. Ini harus berhenti,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau, Kepala Kepolisian Paris Laurent Nunez, Kepala Staf Istana Elysee Patrice Faure, serta seluruh personel keamanan yang terlibat dalam penanganan situasi tersebut.
Meski demikian, insiden keamanan masih terjadi pada Minggu ketika perayaan kemenangan berlanjut di ibu kota Prancis. Menurut harian Le Figaro, bentrokan antara polisi dan pendukung PSG terjadi di sekitar kawasan Champ-de-Mars, lokasi parade kemenangan klub. Aparat terpaksa menggunakan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan.
Gangguan keamanan juga dilaporkan di sekitar Stadion Parc des Princes, tempat PSG dijadwalkan mempersembahkan trofi Liga Champions kepada para pendukungnya. Sejumlah orang tanpa tiket dilaporkan mencoba menerobos pintu masuk sebelum akhirnya dihalau polisi.
PSG sukses mempertahankan gelar Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal 4-3 melalui adu penalti usai bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu di final yang digelar di Budapest, Hongaria.
Berdasarkan laporan harian Prancis Le Figaro, pihak kepolisian menyatakan bahwa kerusuhan dipicu oleh provokasi kelompok suporter radikal yang sengaja menyerang petugas menggunakan kembang api dan suar. Situasi kemudian diperparah oleh aksi vandalisme, penjarahan toko oleh kelompok kriminal yang memanfaatkan keramaian, serta desak-desakan massa tanpa tiket yang memaksa masuk ke area perayaan.
Kemenangan tersebut memicu perayaan besar-besaran di seluruh Prancis. Namun, kerusuhan dilaporkan terjadi di 71 kota. Penjarahan toko terjadi di sekitar 15 kota, sementara bentrokan antara polisi dan kelompok pendukung dilaporkan terjadi di Paris maupun daerah lainnya.
Nunez mengonfirmasi bahwa sebanyak 780 orang ditangkap di seluruh negerikerusuhan tersebut, dengan 457 orang di antaranya resmi ditahan. Ia juga mengungkapkan bahwa tujuh anggota kepolisian mengalami luka-luka, termasuk satu petugas yang mengalami cedera serius di Kota Agen.
