BeritaLokal, Jakarta – Festival Film Indonesia (FFI) 2026 resmi diluncurkan di Senayan, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. Salah satu yang mencuri perhatian adalah pengumuman dua duta FFI tahun ini: Morgan Oey dan Nirina Zubir. Dua nama tersebut menandai kemenangan besar bagi kedua artis dalam konteks industri film Indonesia.
Morgan Oey, aktor berpengalaman dari film Pengepungan Di Bukit Duri (2025), menjadi duta FFI 2026 setelah meraih nominasi Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik tahun lalu. Sebaliknya, Nirina Zubir, yang telah meraih dua penghargaan Citra lewat film Heart dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, kini menjabat sebagai duta FFI 2026. Kedua duet ini memperkuat peran FFI sebagai ajang penghargaan tertinggi bagi para artis Tanah Air.
FFI 2026 mengandalkan beberapa perubahan signifikan untuk meningkatkan kualitas perekrutan film dan penghargaan. Salah satunya adalah perizinan produksi film indie yang dapat mendaftar, asalkan sebagian besar unsur kreatif diambil dari WNI. Kategori Pencipta Lagu Tema Terbaik juga berubah menjadi Pencipta Lagu Tema Asli Terbaik. Selain itu, film yang didaftarkan harus tayang dan disaksikan masyarakat melalui bioskop atau platform digital antara 1 September hingga 31 Agustus 2026.
Pertumbuhan FFI selama beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan perhatian publik. Morgan Oey mengatakan bahwa menjadi duta adalah kehormatan, sekaligus kesempatan belajar di sana. “Saya ingin menjaga hati saya dari memandangnya sebagai hal yang mudah,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kinerja aktris dalam memerankan karakter yang bisa menyentuh rakyat Indonesia.
Selain itu, FFI 2026 mengurangi tahapan seleksi menjadi tiga: seleksi awal, nominasi, dan penentuan pemenang. Film dokumenter pendek diberi batas minimal durasi 10 menit, berbeda dengan tahun lalu yang memperbolehkan hingga 15 menit. Morgan Oey menyambut hangat perubahan ini, mengatakan bahwa FFI tetap menjadi acara seni yang penuh makna.
Kehadiran Morgan Oey sebagai duta FFI juga memberikan wawasan baru tentang perjalanan karier artisnya. Ia membagikan pengalaman dalam mengeksplorasi kariernya di layar lebar dan layar kaca, dengan tema yang lebih penuh kebahagiaan daripada duka. “Saya menyadari bahwa film bukan hanya tentang kesuksesan, tapi juga tentang perjalanan emosional,” kata dia.
Dalam wawancara terpisah, Morgan Oey menjelaskan bahwa honornya tetap berdasarkan standar yang diakui. Ia menegaskan bahwa kinerja proyek film bergantung pada situasi spesifik setiap kali. “Honor itu adalah bagian dari proyek, bukan hanya sekadar penghargaan,” katanya.
Dengan kemenangan dan perubahan yang ditawarkan FFI 2026, kedua duta ini diharapkan mampu memperkuat reputasi film Indonesia sebagai pusat kekayaan seni dan budaya.