beritalokal.my.id, Jakarta – PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) memutuskan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 dengan total nilai sebesar Rp3,822 miliar.
Mengutip Keterbukaan Informasi BEI, Selasa (2/6/2026) Perseroan menetapkan dividen sebesar Rp 3 per saham kepada para pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham yang berhak.
Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, jadwal pembagian dividen tunai SDPC dimulai dengan cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 5 Juni 2026. Selanjutnya, ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi jatuh pada 8 Juni 2026.
Adapun cum dividen di pasar tunai dijadwalkan pada 9 Juni 2026, sedangkan ex dividen di pasar tunai berlangsung pada 10 Juni 2026.Perseroan juga menetapkan tanggal pencatatan atau recording date bagi pemegang saham yang berhak menerima dividen pada 9 Juni 2026. Sementara itu, pembayaran dividen tunai kepada para pemegang saham akan dilaksanakan pada 26 Juni 2026.
Maka dengan besaran dividen Rp 3 per saham dan total nilai distribusi mencapai Rp 3,822 miliar, SDPC melanjutkan kebijakan pembagian laba kepada investor setelah membukukan kinerja positif sepanjang tahun lalu.
Ditopang Laba Bersih Rp 38,47 Miliar
PerbesarSuasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (beritalokal.my.id/Immanuel Antonius)
Pembagian dividen tersebut didasarkan pada kondisi keuangan perseroan per 31 Desember 2025. SDPC membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 38,47 miliar.
Selain itu, perusahaan memiliki saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 194,80 miliar. Posisi tersebut memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk membagikan sebagian laba kepada pemegang saham sekaligus menjaga kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha.
Dari sisi neraca, total ekuitas SDPC tercatat mencapai Rp 315,40 miliar hingga akhir 2025. Struktur permodalan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keputusan pembagian dividen tahun buku 2025.