Bank Sentral Eropa Khawatir Peningkatan Pemakaian Stablecoin

BeritaLokal, Jakarta – Pemakaian stablecoin terus meningkat di pasar global, memperkuat dominasi dolar AS dan mengganggu kebijakan moneter negara-negara lain, kata Anggota Dewan Bank Sentral Eropa Isabel Schnabel. Dalam konferensi di Seoul, ia menyoroti bahwa efek jaringan dan skala penerbitan stablecoin dapat memperkuat dominasi dolar AS, bahkan meski ekonomi nasional tidak lebih kuat.

Selain itu, pemakaian stablecoin yang berbasis dolar AS bisa mengurangi peran euro di pasar moneter internasional. “Stablecoin dolar AS mungkin memperkuat penagihan dalam dolar AS dan kepemilikan likuiditas global,” kata Schnabel, menekankan risiko ini bagi bank sentral Eropa.

Data IMF menunjukkan bahwa porsi dolar AS dalam cadangan devisa turun dari 70% pada awal abad ke-21 menjadi under 57%, memperlihatkan perubahan dominasi mata uang global. Pemakaian stablecoin, yang mempertahankan nilai tetap, dianggap sebagai faktor penurunan kredibilitas moneter beberapa negara.

Di sisi lain, Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menegaskan bahwa penggunaan stablecoin bisa memperluas jangkauan kebijakan AS. Ia mengatakan stablecoin “seperti sistem nilai tukar tetap” yang memungkinkan negara-negara lain mengimpor biaya moneter AS. Waller juga menolak gagasan CBDC (digital currency backed by central banks), menyebutnya “solusi mencari masalah.”

Tether, penerbit stablecoin terbesar, meluncurkan token baru berbasis Georgia pada 25 Mei 2026, dalam kerja sama dengan pemerintah Georgia. Token ini diharapkan mendukung perdagangan lintas batas dan pengembangan fintech. Dengan jumlah penduduk sekitar 3,7 juta, Georgia menempati posisi teratas sebagai penambang mata uang kripto dunia.

Pemerintah Georgia belum merespons secara langsung tentang peran stablecoin dalam kebijakan moneter. Bank sentral Georgia tidak memberikan komentar formal, sementara Perdana Menteri Irakli Kobakhidze dan anggota parlemen Vakhtang Turnava menyatakan dukungan terhadap inovasi keuangan.

Stablecoin, yang mempertahankan nilai tetap melalui aset fiat seperti dolar AS atau surat utang pemerintah, menjadi alat penting dalam ekonomi digital. Namun, risiko dominasi dolar AS dan dampak pada peran euro di pasar moneter internasional masih terus berdampingan.

Beritalokal.my.id menyarankan pembaca untuk memantau dinamika ini secara aktif, karena keputusan investasi terbuka bagi semua pihak.

Artikel Terkait

0