Mengekor Wall Street AS, Bursa Saham Asia Pasifik Melemah Hari Ini

BeritaLokal, Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa malam waktu setempat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran. Aksi tersebut diumumkan sebagai respons atas jatuhnya helikopter militer AS sehari sebelumnya, yang menimbulkan ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah.

Selain itu, pasar saham Asia mengalami pelemahan setelah China melaporkan kenaikan kasus wabah virus corona, meski data inflasi AS diperkirakan akan mencapai 4,2% pada rilis Rabu pagi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,71%, sementara indeks Kospi Korea Selatan mengalami penurunan lebih dari 2%. Pasar komoditas juga menguat setelah serangan tersebut, dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1% ke kisaran US$89 per barel.

Konflik AS-Iran yang kembali memanas terus memperparah ketegangan di Timur Tengah. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi serangan terhadap Iran sebagai upaya untuk melindungi diri dari ancaman, sementara Presiden Donald Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas insiden yang menimpa helikopter di kawasan Selat Hormuz. Meski Iran belum mengklaim kesalahannya, perkembangan ini berpotensi memperburuk gencatan senjata yang sebelumnya terjepit oleh ketegangan antar-negara.

Di pasar teknologi, saham semikonduktor dan memori kembali tekanan jual, menyebabkan indeks S&P 500 turun 0,26% dan Nasdaq Composite melemah 0,97%. Chief Investment Strategist Empower Investments, Marta Norton, mengatakan bahwa koreksi saat ini lebih disebabkan oleh sentimen pasar yang terlalu optimistis daripada perubahan fundamental ekonomi. “Kenaikan pasar sebelumnya sangat ditopang oleh saham teknologi, tetapi area tersebut mulai jenuh,” katanya.

Pasar juga menanti data inflasi AS yang akan diumumkan Rabu pagi waktu setempat. Konsensus Dow Jones memperkirakan inflasi tahunan mencapai 4,2%, dengan kenaikan bulanan sebesar 0,5%. Jika proyeksi tersebut terpenuhi, inflasi AS akan kembali menembus level 4% pertama kalinya sejak Mei 2023. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak April 2023 dan berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Kombinasi risiko geopolitik di Timur Tengah dan potensi inflasi tinggi membuat investor cenderung bersikap hati-hati, meningkatkan volatilitas global.

error: Content is protected !!