BeritaLokal, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan program investasi sebesar US$ 700 juta (sekitar Rp 12,62 triliun) untuk mengembangkan industri batu bara AS, meski tindakan ini disampaikan dalam konteks kebijakan energi terbarukan yang sedang ramai diperdebatkan.
Selain itu, Trump menegaskan bahwa investasi ini bertujuan untuk memperkuat keamanan energi nasional dan mencegah kenaikan biaya hidup warga AS yang diakibatkan perang dengan Iran serta penutupan Selat Hormuz. Menurut pernyataannya, pembangunan 14 pembangkit listrik tenaga batu bara dan 42 tambang batu bara akan menjadi bagian dari rencana ini. Dana federal sebesar US$ 500 juta (Rp 9,01 triliun) akan digunakan untuk menyelamatkan 14 unit pembangkit yang sudah ada, sementara US$ 200 juta (Rp 3,6 triliun) akan dialokasikan untuk membangun dua baru di Alaska dan West Virginia.
Program ini dibantu oleh Undang-Undang Produksi Pertahanan (DPA), sebuah kebijakan era perang dingin yang memberi wewenang presiden mengendalikan industri vital bagi keamanan nasional. Trump menilai bahwa batu bara merupakan sumber energi paling efisien untuk mengurangi ketergantungan pada energi terbarukan seperti angin dan surya, meskipun hal ini memicu kontroversi di kalangan masyarakat yang mendukung kebijakan ekologi.
Pembangkit listrik tenaga batu bara akan dibangun di 10 negara bagian AS, termasuk Kentucky, North Carolina, Indiana, Tennessee, Arkansas, Arizona, Oklahoma, North Dakota, Wisconsin, dan West Virginia. Menurut estimasi, proyek ini akan menciptakan sekitar 14.000 lapangan kerja dan menghemat biaya pembangkit energi baru bagi konsumen AS hingga US$ 50 miliar (Rp 901,90 triliun), menurut pernyataan Trump.
Harga bensin di AS mencapai US$ 4,24 per galon, naik dari US$ 2,98 sebelum serangan AS-Israelfi pada April 2026. Angka ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang dengan Iran dan penutupan Selat Hormuz. Dalam laporan Biro Statistik Tenaga Kerja, harga energi secara keseluruhan naik 17,9% hingga April 2026.
Trump menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk memastikan stabilitas ekonomi AS dan mencegah krisis energi yang dapat mengganggu sistem pemerintahan. Meski ada skeptis, strategi Trump tetap dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Artikel Terkait
Investasi Energi Besar Proyek ABADI di Blok Masela
18 Juli 2026
Investasi Energi Besar: BP dan ConocoPhillips Siap Investasi Irak
17 Juli 2026
Minyak Melesat 3% Karena Trump Terapkan Tarif Selat Hormuz
16 Juli 2026
Pemerintah Revisi CPE untuk Mendorong Swasta di Energi Nasional
8 Juli 2026
Tak Ada Pembangkit Baru Yang Dibangun Selama 5 Tahun Darmo Jadi Dirut PLN, Sabotase Pemerintahan Prabowo?
11 Juni 2026
Produksi Beras Indonesia Mendorong Rekor Puncak di Asia Tenggara Hari Ini
20 Juni 2026
BI Rate Meningkat Kembali, Masyarakat Mulai Ragu Pinjam ke Bank
20 Juni 2026
Pilih Rumah Baru! Jangan Lewatkan Langkah Penting Ini
20 Juni 2026
Memuat komentar...