BeritaLokal, Jakarta – Harga Minyak Melesat 3% Setelah Trump Bakal Kenakan Tarif di Selat Hormuz, mencuatkan ketidakpastian di pasar energi global. Di tengah rencana Presiden AS Donald Trump mengenakan biaya 20 % pada semua kargo yang melintasi Selat Hormuz, WTI dan Brent berangkat dari zona 80 dolar per barel menembus level 80,64 dan 86,27, menandai kenaikan 3,2 % dan 3,57 % berturut‑turut pada akhir pekan kemarin.
Pada selasa, 14 Juli 2026, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) bagi pengiriman Agustus melonjak 3,2 % menghadapi tekanan ekonomi global. Sementara itu, kontrak Brent untuk pengiriman September menguat 3,57 % berkat momentum positif, memperpanjang kenaikan 9,6 % pada sesi sebelumnya, menandakan ketegangan jual beli yang intens. Data ini dihasilkan minggu ini, ketika pasar reaksi terhadap kebijakan judi di jalur strategis Selat Hormuz, titik persimpangan paling kritis pasokan minyak dunia.
Trump memulai pengumuman ini pada senin, 13 Juli 2026, dengan menyatakan U.S. akan mengenakan biaya 20 % pada kapal yang melintasi selat. Dalam unggahan di Truth Social, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat kini “menjadi penjaga Selat Hormuz.” Bersamaan dengan rencana tarif, Presiden memutuskan untuk mengembalikan blokade pelabuhan Iran di dekat selat, mempertegas posisi konflik yang telah menegang antara Washington dan Teheran. Komando Pusat AS menuturkan bahwa blokade akan mulai berlaku senin malam, 14 Juli 2026.
Dominasi Tarif Selat Hormuz
Kebijakan “tarif 20 %” dianggap sebagai upaya menjamin resiko keamanan dan menutup gap pengeluaran militer. Meskipun belum jelas mekanisme pelaksanaannya, publikasi “Surat kepada Senat” tertanggal 10 Juli menegaskan operasi militer baru terhadap Iran telah dimulai sejak 7 Juli. Terra, dalam konteks tersebut, mengindikasikan bahwa Korea dan Amerika akan meminta pembayaran kardan untuk kawasan yang dianggap vital. Menurut analisis Citi, risiko eskalasi militer menjadi signifikan, karena Iran dapat menarik diri dari perjanjian bilateral, bila konsekuensi diberi isipadu biaya tinggi.
Risiko Geopolitik dan Pasar Minyak
Jika pemerintahan AS terus menerapkan tarif ini, pasar minyak akan terkena fluktuasi, mendorong harga lebih tinggi dalam jangka panjang. Kepentingan strategis Selat Hormuz, yang memponsi 10 % konsumsi minyak dunia, menyebabkan kembalinya aksi pengeblok. Situasi ini berpotensi memicu pertentangan hukum internasional, mengingat hak kelangsungan aplikasi jalur bebas. Dalam unggahan di X, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa “Iran, bukan Amerika Serikat, yang mengendalikan Selat Hormuz sehingga berhak memperoleh kompensasi atas pengelolaan jalur tersebut.” Pernyataan ini menandai ketegangan diplomatik yang menahan pencegahan lebih jauh. Pada saat bersamaan, indeks saham Amerika menurun, sementara energi global memantau pergerakan.
Kadang kebijakan ini dilihat sebagai respons kuat terhadap dinamika politik dan ekonomi di kawasan Mid‑East. Meningkatnya kecemasan pasokan minyak global menandai pentingnya kepastian jalur transit. Rumusan pusat militer memperontekan balance antara keamanan dan pasar. Kalimat Trump yakni “Selat Hormuz terbuka dan akan tetap terbuka, dengan atau tanpa Iran,” menegaskan komitmen formal terhadap kebebasan pelayaran internasional, meskipun di atas bayangan tarif.
Perkembangan ini menunjukkan intervensi langsung dan kontroversial hati-hati. Sebagai negara pengawas, Amerika menempatkan jalan nabati dalam segmen kuasa berkelanjutan, sementara Iran menentang sebelumnya. Dengan ransomware paksa dan jalur perdagangan berisiko, reaksi pasar mengetengahkan ketidakpastian. Pasar kini menantikan detil pelaksanaan pungutan 20 % dan respon Turki serta Indonesia atas ketegangan ini, karena kedua negara menghiraukan jalur penting bagi perdagangan maritim. Sementara perdagangan dunia memperketat, pengawasan lebih ketat, dan industri navpet terjerat, mengantarkan potensi kenaikan harga dalam satuan dolar per barel.
Artikel Terkait
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026
Harga BBM Tetap Stabil Meski Minyak Dunia Bergejolak
27 Juli 2026
Rupiah Turun, Tariff Trump Menekan Nilai Mata Uang
24 Juli 2026
Minyak $100, Purbaya Jaga Harga BBM Subsidi Tetap
24 Juli 2026
Harga Minyak Melonjak 7% Pasca Serangan Tanker Saudi
24 Juli 2026
Harga Minyak Melambung Setelah Serangan Kapal Tanker
23 Juli 2026
Trump Terapkan Tarif Obat Generik Tinggi Mulai 2028
22 Juli 2026
Tarif Kanada 50% Diterapkan Trump
21 Juli 2026
Memuat komentar...