Nyawa ribuan pasien terancam akibat kekurangan obat-obatan dan pasokan medis penting serta penundaan ribuan tindakan bedah.
PerbesarRusak atau hancurnya sekitar 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza juga menjadi penanda situasi krisis kemanusiaan yang ekstrem. Tampak dalam foto, anak-anak menunggu untuk mengisi wadah dengan air di kamp pengungsi Palestina, Nuseirat, Jalur Gaza Tengah pada Kamis 7 Mei 2026. (Eyad Baba/AFP)
, Jakarta – Krisis kesehatan semakin parah di Jalur Gaza, Palestina. Nyawa ribuan pasien terancam akibat kekurangan obat-obatan dan pasokan medis penting serta penundaan ribuan tindakan bedah.
Seperti dilansir Antara, Jumat (5/6/2026), sumber medis setempat mengatakan, lebih dari 4.000 pasien kanker dan ribuan pasien yang menjalani cuci darah kini menghadapi risiko serius karena tidak mendapatkan obat-obatan penting yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.
Lebih dari sepertiga obat dalam daftar obat-obatan esensial dilaporkan sudah habis.
Sumber itu menambahkan, 726 jenis obat-obatan, bahan medis habis pakai, dan perlengkapan laboratorium saat ini tidak tersedia di gudang medis pusat.
Jumlah itu mencakup 180 dari 520 obat esensial serta 50 dari 97 obat onkologi.
Krisis parah juga terjadi pada filter dialisis, benang jahit bedah, dan bahan kateterisasi jantung, yang memaksa penundaan sejumlah operasi dan prosedur medis.
Sumber tersebut juga melaporkan habisnya persediaan 79 perlengkapan laboratorium dan 265 perlengkapan medis khusus.
Sementara itu, lebih dari 11.000 operasi tertunda akibat kekurangan pasokan dan kendala keuangan yang berkelanjutan.
