[BeritaLokal], Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada awal sesi perdagangan Senin, 8 Juni 2026, dengan meluncur turun 3,03% menjadi 5.421, menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih berada dalam zona koreksi yang mendalam. Dalam konteks makroekonomi yang masih memperlihatkan ketidakpastian, investor diharuskan untuk lebih selektif dalam memilih strategi investasi, dengan fokus utama pada menjaga modal dan menghindari risiko yang tidak perlu di tengah tren pasar yang belum memulihkan kepercayaan pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini masih dipengaruhi oleh sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan erosi kepercayaan investor. Salah satunya adalah inflasi Mei yang mencapai 3,08% year-over-year, melebihi ekspektasi pasar, serta pergerakan Rupiah yang menembus level Rp 18.000, serta total net foreign sell year to date mencapai Rp 60,8 triliun. “Ini bukan hanya angka yang terlihat, tapi refleksi sistemik dari ketidakpastian pasar,” ujar Hari, menjelaskan bahwa kombinasi faktor ini mengurangi daya tahan investor terhadap fluktuasi harga saham.
Dalam konteks strategi investasi, Hari menyarankan investor untuk memprioritaskan pendekatan defensif. Ia menekankan bahwa penurunan IHSG yang terjadi saat ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengejar momentum jangka pendek, terutama dalam hal keputusan seperti averaging down yang agresif. “Hindari averaging down secara agresif sebelum ada konfirmasi stabilisasi rupiah dan sinyal bottoming yang jelas dari price action,” kata Hari. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase penyesuaian, dan keputusan investasi harus dibuat dengan kewaspadaan tinggi.
Untuk investor jangka menengah, Hari menyarankan untuk memanfaatkan kondisi ini untuk selektif mempertimbangkan saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples, yang secara historis menunjukkan valuasi yang sangat atraktif, namun tetap harus dikelola secara bertahap dan dengan alokasi kecil. “Jangan menganggap koreksi ini sebagai peluang untuk masuk besar-besaran,” lanjutnya, menekankan pentingnya menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI sebelum memutuskan strategi jangka panjang.
Dalam hal rekomendasi jangka pendek, Hari menyoroti tiga saham yang dinilai memiliki potensi trading dalam sepekan ke depan: PT Timah Tbk (TINS), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). TINS berada di level Rp 3.150 dengan target Rp 3.340 (+6,03%), dan memiliki stop loss di Rp 3.050. Dengan berada di atas support 2.900 dan di atas EMA 5, saham ini dinilai memiliki sinyal teknikal positif. CUAN berada di Rp 675 dengan target Rp 715 (+5,93%), dan memiliki potensi reversal di EMA 5 serta pembentukan pola uptrend. KETR berada di Rp 560 dengan target Rp 600 (+7,14%), dan memiliki stop loss di Rp 540.
Selain saham individu, Hari juga merekomendasikan Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) sebagai alternatif investasi defensif. “Produk ini menarik karena portofolio-nya terdiri dari saham-saham berdividen yang relevan, di tengah maraknya pembagian dividen oleh emiten,” ujarnya. Dengan sentimen pembagian dividen yang semakin meningkat, XIHD berpotensi menjadi aset yang tetap menawarkan imbal hasil stabil di tengah dinamika pasar yang tidak menentu.
Sebelumnya, IHSG dibuka turun 1,94% menjadi 5.486,31 pada pukul 08.58 WIB, lalu terus mengalami penurunan hingga mencapai 3,03% di pukul 09.03 WIB. Seluruh sektor saham tertekan, dengan sektor industri, energi, dan infrastruktur terpangkas lebih dari 3%, serta sektor transportasi turun 4,69%. Volume perdagangan mencapai 1,7 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,2 triliun, menunjukkan bahwa aktivitas pasar tetap tinggi meskipun dalam kondisi bearish.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih dalam fase penyesuaian, dan keputusan investasi harus dibuat dengan analisis mendalam, kewaspadaan tinggi, serta fokus pada aset yang memiliki sinyal teknikal dan fundamental yang kuat.