Harga Logam Mulia Diprediksi Tembus Rp 2.880.000 Pekan Depan

BeritaLokal, Jakarta – Harga logam mulia diproyeksikan menguat pekan depan, terutama emas dunia, yang dinilai akan mencapai Rp 2.880.000 per gram pada level tertentu. Kenaikan harga ini disebabkan oleh dua faktor utama: perkembangan geopolitik dan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Selain itu, harga emas dunia juga dipengaruhi oleh kondisi pasar global seperti pergerakan indeks dolar, minyak mentah, dan kebijakan moneter. Kebijakan The Fed, yang mempertahankan suku bunga saat ini, dapat berdampak signifikan pada harga logam mulia. Jika inflasi terus meningkat di atas 2%, peluang kenaikan suku bunga mungkin terbuka.

Pemicu Kenaikan Harga Emas Dunia
Pergerakan harga emas dunia dipengaruhi oleh dua aspek utama: dinamika geopolitik dan kebijakan moneter. Salah satu poin penting adalah kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada Minggu (14/6/2026). Kesepakatan ini diharapkan mendorong penurunan harga minyak, karena pengembangan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor krusial dalam perdagangan global.

Menurut analis mata uang Ibrahim Assuaibi, jika kesepakatan AS-Iran terealisasi dan Selat Hormuz dibuka kembali, kondisi tersebut bisa menjadi momentum harga emas dunia mengalami kenaikan. Dalam perhitungan teknikal, apabila harga emas dunia mencapai level US$ 4.394 per troy ounce (Rp 2.740.000/gram), ini menjadi level resistance pertama. Jika harga melewati titik ini, kenaikan harga bisa terus berlanjut hingga mencapai Rp 2.880.000/gram pada level resistance kedua di US$ 4.571 per troy ounce.

Perkembangan Pasar Global
Selain itu, kebijakan The Fed juga menjadi faktor penting. Pada pertemuan mendatang, pihaknya diperkirakan akan mempertahankan suku bunga saat ini, tetapi ada kemungkinan kenaikan jika harga minyak terus meningkat dan inflasi berada di atas 2%. Jika kondisi ini terpenuhi, kebijakan moneter dapat mendorong kenaikan harga emas.

Perkembangan geopolitik juga memainkan peran. Dengan kondisi perdamaian AS-Iran yang semakin stabil, pasar melihat potensi penurunan harga minyak dan dolar, yang bisa berdampak positif terhadap harga logam mulia. Meski demikian, risiko koreksi harga emas juga tetap ada jika pergerakan global tidak menunjukkan tren naik.

Analisis Ibrahim menyatakan bahwa pasar membutuhkan waktu untuk menggali potensi kenaikan harga emas. Kondisi ini bisa terjadi setelah kondisi geopolitik stabil dan kebijakan moneter berjalan tepat sasaran. Dengan demikian, hingga pekan depan, harga logam mulia masih dalam jangkauan rentang yang diharapkan.

BeritaLokal, Jakarta