BeritaLokal, Jakarta – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) terus memperkuat strategi lindung nilai (hedging) untuk menghadapi pelemahan rupiah yang lebih cepat dari perkiraan perusahaan pada 2026. Direktur Keuangan GMF, Tri Hartono, menegaskan bahwa upaya hedging menjadi kunci dalam mengelola risiko nilai tukar, terutama karena sebagian transaksi dan kewajiban perusahaan masih dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS.
Pada kuartal I 2026, GMF mencatat pendapatan US$ 114,94 juta atau meningkat 20,53% dibandingkan periode sama tahun lalu. Dengan target pendapatan US$ 542,79 juta pada 2026, perusahaan memperkuat aktivitas perawatan pesawat di segmen komersial aviation, yang menjadi kontributor utama bisnisnya. Tri mengakui bahwa kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah sepanjang 2026 lebih cepat dari perkiraan awal, menimbulkan potensi tekanan pada keuangan perusahaan jika tidak diantisipasi dengan strategi pengelolaan risiko yang tepat.
Selain itu, GMF memanfaatkan pembayaran dari Garuda Indonesia Group (GA Group) untuk mengurangi eksposur piutang lama melalui skema hedging. Tri menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan untuk mengurangi dampak selisih kurs yang semakin melebar, terutama di tengah pergerakan dolar AS yang lebih cepat dibandingkan prediksi awal.
Pada akhir Desember 2025, GMF mencatat pencapaian kinerja keuangan yang melampaui target dengan pendapatan US$ 491,8 juta, EBITDA US$ 80,24 juta, dan laba bersih US$ 33,96 juta. Dengan peningkatan pendapatan sebesar 109,65% dibandingkan target tahun ini, perusahaan memperkuat posisi finansialnya.
Seiring dengan itu, GMF sedang menjalani proses kuasi reorganisasi untuk menata struktur keuangan dan memperkuat fondasi perusahaan sekaligus menjawab harapan pemegang saham terkait pembagian dividen di tahun depan. Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi, mengemukakan bahwa langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki struktur ekuitas dan memberikan fleksibilitas untuk melaksanakan pembagian dividen.
Perusahaan menargetkan pendapatan US$ 542,79 juta pada 2026 dengan EBITDA US$ 81,82 juta dan laba bersih US$ 34,47 juta. Meski kinerja keuangan 2025 mengalami peningkatan signifikan, GMF tetap memperhatikan dinamika kurs dolar AS sebagai faktor utama dalam pengelolaan risiko.
Sementara itu, pembagian dividen di tahun depan masih menunggu pendekatan yang lebih terstruktur. Proses kuasi reorganisasi yang telah dibuka secara keterbukaan informasi kepada publik menjadi langkah strategis untuk memperkuat keuangan perusahaan dan menjawab permintaan pemegang saham.