[BeritaLokal], Jakarta — Siang hari yang seharusnya penuh cahaya, malah jadi waktu paling dramatis untuk menyaksikan langit yang “menyemburkan” hujan meteor — Arietid. Puncak aktivitasnya, pada 10 Juni 2026, tak bisa ditunda, tak bisa dihindari. Dan jika kamu berada di tempat yang tepat, kamu akan melihat langit “berdenting” dengan 60–200 meteor per jam, sebelum matahari benar-benar bangkit.
Arietid bukan hujan meteor yang berjalan di malam hari, tapi yang beraksi di siang hari — dan itu membuatnya menjadi salah satu fenomena paling “berani” di kalender astronomi. Titik pancarnya berada di konstelasi Aries, tapi karena posisinya dekat dengan matahari, meteor ini hanya bisa diamati dalam waktu singkat — sebelum langit mulai terang. Bahkan cahaya bulan sabit yang terang bisa mengganggu pengamatan, tapi tidak berarti kamu harus menyerah.
Para astronom di Inggris, yang pertama kali menemukan Arietid melalui radar di Jodrell Bank pada 1947, mengatakan ini bukan hanya hujan meteor, tapi “kata-kata langit yang berteriak di siang hari”. Dengan sumber dari komet 96P/Machholz yang ditemukan oleh Don Machholz pada 1986, meteor-meteor ini adalah sisa-sisa komet yang terus menghantui Bumi setiap tahun, seperti penghuni yang tak pernah pulang, tapi selalu datang.
Meski tidak sepopuler Perseid atau Geminid, Arietid tetap menjadi favorit para penggemar langit karena aktivitasnya yang tinggi dan kesan “siang hari yang berubah menjadi malam” — karena kamu harus bangun lebih awal, tapi bisa menyaksikan langit yang “terbang” dengan semangat. Dan kalau kamu di tempat minim polusi cahaya, dan mengarahkan pandangan ke timur sebelum fajar, maka kamu adalah salah satu yang beruntung.
Tahun ini, puncaknya pada 10 Juni. Jangan tunggu hujan meteor lain. Tunggu Arietid. Karena saatnya telah tiba — dan langit akan mengingatmu.
