Bos JPMorgan Jamie Dimon Kritik RUU Clarity

beritalokal.my.id, Jakarta – CEO JPMorgan Jamie Dimon dinilai memberikan pesan kepada industri kripto. Ia menilai, industri tidak dapat menikmati manfaat sistem perbankan tanpa menerima tanggung jawabnya.

“Jika Anda ingin menjadi bank, jadilah bank,” ujar Jamie Dimon saat wawancara dengan Maria Bartiromo dari Fox Business, dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (30/5/2026).

Ia menuturkan, jika platform seperti Coinbase ingin menerima deposit dan membayar imbalan kepada pelanggan, Dimon menuturkan, mereka harus tunduk pada persyaratan modal, aturan likuiditas, dan pengawasan regulasi yang sama seperti yang dihadapi bank setiap hari.

“Kita memiliki 84 regulator yang mengawasi kita. Kita hanya mengatakan itu harus adil dan setara. Titik,” ujar Dimon.

Dimon tidak menyukai Clarity Act. Saat ditanya mengenai apakah dia puas dengan arah undang-undang itu, Dimon tanpa ragu mengatakan tidak.

The Clarity Act, rancangan undang-undang struktur pasar untuk aset digital telah lolos dari pembahasan Komite Perbankan Senat pada 14 Mei. Salah satu poin penting yang menjadi kendala adalah apakah platform kripto dapat membayar bunga atas saldo stablecoin.

Keberatan utama Dimon yakni Rancangan Undang-Undang (RUU) itu, sebagaimana tertulis, akan memungkinkan penerbit stablecoin untuk secara efektif membayar bunga atas saldo pelanggan tanpa perlindungan anti pencucian uang (AML), Undang-Undang Kerahasiaan Bank (BSA) atau Kenali Pelanggan Anda (Know Your Customer/KYC) yang secara hukum wajib dipegang oleh bank.

“RUU Clarity tidak melakukan apapun untuk AML dan BSA. Tidak ada perlindungan hukum. Bank tidak akan menerimanya seperti itu,” ujar Dimon.

 

 

Suarakan Keberatan terhadap RUU

PerbesarCEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, dalam sebuah upacara di New York, Selasa, 21 Oktober 2025. (AP Photo/Seth Wenig)

Dimon mengakui stablecoin pada akhirnya dapat menjadi sistem pembayaran yang sah. Ia mencatat JPMorgan sudah memiliki deposit coin sendiri. Namun, ia menggambarkan jalur legislatif saat ini sebagai perjuangan yang layak dilakukan.

“Jika kita kalah, kita kalah. Kita akan tetap hidup. Tetapi ini akan diperjuangkan.”

Selama wawancara, Bartiromo menyebut Brian Armstrong, CEO Coinbase, yang telah menjadi pendukung vokal untuk undang-undang yang ramah kripto dan untuk mengizinkan platform membayar imbal hasil stablecoin.

Dimon tidak menyebut nama Armstrong, tetapi ia menuduh satu individu telah menghabiskan “ratusan juta dolar AS” untuk mendorong undang-undang yang ramah kripto melalui Washington.

Pernyataan tersebut muncul di tengah perseteruan publik. Armstrong telah menjadi salah satu suara paling lantang yang mendesak aturan yang akan memungkinkan platform kripto menawarkan imbal hasil tanpa pengawasan tingkat bank, dan Coinbase serta perusahaan kripto lainnya telah menggelontorkan uang untuk pengeluaran politik pro-kripto selama dua tahun terakhir.

“Pada akhirnya, kita semua memiliki tujuan yang sama: meningkatkan kehidupan finansial warga Amerika. Jutaan warga Amerika percaya bahwa ini termasuk melestarikan program hadiah dan mengesahkan aturan yang jelas yang melindungi konsumen sambil menjaga Amerika tetap berada di garis depan inovasi keuangan. Sudah saatnya Senat membawa RUU CLARITY ke sidang pleno,” ujar Coinbase Chief Policy Officer Faryar Shirzad.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. beritalokal.my.id tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.



error: Content is protected !!