BeritaLokal, Jakarta – Bank Dunia mengungkap tren krisis ekonomi yang terjadi pada kelas menengah Indonesia, dengan data menunjukkan penurunan hampir separuh jumlah pekerja dalam kelompok tersebut dalam tujuh tahun terakhir. Laporan tahun 2026 menyebutkan bahwa dari 14,5% pendapatan yang berada di kategori menengah pada 2018, proporsi itu turun menjadi 7% pada 2025. Fenomena ini menggambarkan dinamika ekonomi yang kompleks dan perlu serius diperhatikan.
Selain penurunan pendapatan, keadaan pekerjaan juga menjadi faktor kritis. Bank Dunia menyoroti perlambatan pertumbuhan upah riil sebesar 1-2% per tahun, meski nominal pendapatan terus meningkat karena inflasi. Kondisi ini memengaruhi daya beli masyarakat, yang berdampak pada sektor konsumsi dan investasi. Sementara itu, tingkat setengah pengangguran mencapai 32,7%, menunjukkan bahwa banyak pekerja belum mendapatkan penghasilan yang cukup atau pekerjaan dengan produktivitas optimal.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kelas menengah sebelumnya berperan sebagai motor konsumsi domestik, mendukung pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memperingatkan bahwa penurunan jumlah pekerja di kelompok menengah dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan inklusivitas pertumbuhan. Untuk mencegahnya, lembaga ini menyarankan penguatan lapangan kerja yang lebih produktif, kualifikasi pendidikan, serta reformasi struktural untuk meningkatkan nilai tambah sektor industri.
Di bawah subjudul “Perlambatan Pertumbuhan Pendapatan”, Bank Dunia menyebutkan bahwa penurunan upah riil mengurangi daya beli masyarakat. Sementara lapangan kerja baru di sektor pertanian dan jasa makanan masih terbatas, kualitas pekerjaan menjadi faktor penting untuk menarik perhatian masyarakat ke dalam kelompok menengah. Reformasi struktural dan peningkatan pelatihan tenaga kerja dinilai sebagai langkah utama.
Di sisi lain, subjudul “Penciptaan Lapangan Kerja” menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di atas 5% belum merata. Bank Dunia menekankan perlunya strategi yang lebih cermat dalam mendorong kembali kelas menengah, termasuk pengembangan sektor industri dan jasa modern. Dengan demikian, keberhasilan memperkuat kelas menengah tidak hanya menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi tetapi juga mendorong pertumbuhan yang inklusif di masa depan.