Antrean IPO Menyusut jadi 12 Perusahaan, Ini Alasannya

BEI mengungkapkan penyebab jumlah perusahaan yang mau IPO berkurang menjadi 12 perusahaan dari sebelumnya 15 perusahaan.

PerbesarLayar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (/Angga Yuniar)

, Jakarta – Jumlah perusahaan yang berada dalam antrean pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan. Hingga 5 Juni 2026, BEI mencatat terdapat 12 perusahaan dalam pipeline penawaran umum perdana saham (IPO), turun dari sebelumnya 15 perusahaan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan, berkurangnya jumlah calon emiten dalam pipeline terjadi di tengah proses evaluasi dan pemenuhan berbagai persyaratan pencatatan. Sebagian perusahaan diketahui masih melakukan penyempurnaan dokumen dan laporan keuangan sebelum dapat melanjutkan proses menuju pasar modal.

Selain itu, kata Nyoman, sejumlah perusahaan yang sebelumnya masuk dalam pipeline masih menghadapi beberapa kendala administratif dan persyaratan regulasi.

“Ada yang revisi laporan keuangan menggunakan LK terbaru, ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, ada yang belum disetujui,” kata Nyoman kepada media dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).

Berdasarkan data BEI per 5 Juni 2026, terdapat satu perusahaan yang telah mencatatkan saham dengan dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp 0,30 triliun sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, sebanyak 12 perusahaan masih berada dalam pipeline IPO. Dari jumlah tersebut, delapan perusahaan merupakan aset skala besar dengan total aset di atas Rp 250 miliar.

Empat perusahaan lainnya masuk kategori aset skala menengah dengan nilai aset antara Rp 50 miliar hingga Rp250 miliar. Dilihat dari sektor usahanya, pipeline IPO saat ini didominasi oleh sektor bahan baku (basic materials) dan consumer cyclicals.

Masing-masing sektor menyumbang tiga perusahaan atau sekitar 25% dari total antrean IPO. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals dan dua perusahaan dari sektor infrastruktur. Sementara sektor keuangan, kesehatan, dan teknologi masing-masing menyumbang satu perusahaan.

Tidak terdapat perusahaan dari sektor energi, properti dan real estat, maupun transportasi dan logistik dalam pipeline IPO saat ini. Penurunan jumlah pipeline dari 15 menjadi 12 perusahaan menunjukkan masih adanya proses penyesuaian yang harus diselesaikan oleh sejumlah calon emiten sebelum melanjutkan tahapan pencatatan saham.

 

 

 

Pipeline Obligasi Masih Ramai

PerbesarAktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (/Angga Yuniar)

Berbeda dengan pipeline IPO yang menyusut, aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen obligasi masih menunjukkan geliat yang kuat. BEI mencatat hingga 5 Juni 2026 telah diterbitkan 63 emisi dari 40 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 69,94 triliun.

Selain itu, masih terdapat 53 emisi dari 36 penerbit yang berada dalam pipeline. Sektor keuangan menjadi penyumbang terbesar dengan 14 perusahaan atau sekitar 41,5% dari total pipeline obligasi.

Sektor infrastruktur menempati posisi kedua dengan tujuh perusahaan, disusul sektor energi sebanyak lima perusahaan. Kemudian sektor basic materials, consumer cyclicals, dan consumer non-cyclicals masing-masing menyumbang tiga perusahaan. Adapun sektor industri tercatat memiliki dua perusahaan dalam antrean penerbitan obligasi, sementara sektor kesehatan dan teknologi masing-masing satu perusahaan.

 

Rights Issue Didominasi Sektor Properti

PerbesarKaryawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (/Angga Yuniar)

Di sisi lain, aktivitas aksi korporasi melalui rights issue masih relatif terbatas. Hingga awal Juni 2026, tercatat empat perusahaan telah melaksanakan rights issue dengan total nilai mencapai Rp 3,89 triliun.

Seluruh rights issue yang telah terlaksana tersebut berasal dari sektor properti dan real estat. Dengan demikian, sektor tersebut menguasai 100% realisasi rights issue sepanjang tahun berjalan. BEI juga mencatat masih terdapat satu perusahaan yang berada dalam pipeline rights issue. Perusahaan tersebut juga berasal dari sektor properti dan real estat.



error: Content is protected !!