BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam 4% pada perdagangan Kamis setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi damai dengan Iran hampir mencapai titik kritis. Meski ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, pernyataan Trump yang menunjukkan optimismasi memicu penurunan harga minyak dunia, bahkan mengancam stabilitas ekonomi global.
Selain itu, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Amerika Serikat dan Inggris melonjak signifikan karena ketegangan antara AS dan Iran terus membesar. Di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, Irak, pekerja mengumpulkan oli mesin setelah operasinya dikurangi akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran. Pernyataan Trump tentang kemajuan negosiasi yang akan ditandatangani di Eropa dalam beberapa hari mendatang menjadi pemicu optimisme pasar, dengan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah berkurang.
Harga West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,9% ke US$ 86,51 per barel, sementara Brent, acuan global, melemah 4,2% menjadi US$ 89,15 per barel. Penurunan harga ini disebabkan oleh harapan pasar bahwa negosiasi damai dapat segera berlangsung. Namun, Trump tetap mempertahankan sikap keras terhadap Iran, bahkan mengancam akan mengambil alih terminal ekspor minyak Iran jika tidak menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus memanas setelah AS menyerang target militer Iran pada Rabu, yang disertai serangan rudal oleh Iran ke wilayah Teluk. Kekhawatiran tentang konflik berkepanjangan meningkat karena Teheran meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap kapal AS di Selat Hormuz, sementara Kuwait menutupi wilayah udaranya. Rystad Energy, firma konsultan energi, mengatakan bahwa risiko gangguan pasokan minyak masih lebih rendah dibanding krisis sebelumnya karena jalur alternatif dan ekspor AS melambat.
Pihak Iran menyebutkan Teheran menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain, sementara otoritas Bahrain mengklaim sistem pertahanannya mencegah serangan udara dari Iran. Meski demikian, ketergantungan terhadap Selat Hormuz tetap menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan. Senior Vice President Rystad Energy Jorge Leon menekankan bahwa peluang diplomatik berlangsung cepat semakin kecil, meski harga minyak masih dapat bergejolong karena investor memantau dinamika ketegangan.
Situasi ini memicu perhatian pasar global terhadap stabilitas energi dan inflasi, sementara ketegangan antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama dalam pergerakan harga minyak dunia. Masyarakat sekitar kawasan Timur Tengah mengkhawatirkan potensi konflik yang bisa memicu ancaman krisis energi global.