ESDM: Harga BBM RON 92 di Negara Tetangga Rp 21.000

BeritaLokal, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga BBM Pertamax masih jauh di bawah standar keekonomian, meskipun terjadi kenaikan sebesar 37.5% dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Dwi Anggia, Juru Bicara ESDM, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga ini merupakan pilihan terbaik untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi tanpa merugikan masyarakat.

Selain itu, angka keekonomian RON 92 di negara tetangga diperkirakan berkisar antara Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter, menurut Anggia. “Kenaikan harga Pertamax saat ini masih jauh di bawah harga keekonomian untuk BBM nonsubsidi,” kata dia dalam wawancara di Kantor ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara, menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax hanya sebesar 50% dari harga asli, meski telah melalui proses persetujuan dengan Menteri ESDM. Dia menjelaskan bahwa penyesuaian ini bertujuan untuk mengurangi beban Pertamina dalam menangani gejolak harga minyak dunia. “Pertamax merupakan BBM bagi masyarakat kelas menengah ke atas, jadi tidak berdampak pada inflasi,” kata Dony.

Menurut poin lainnya, Pertamina memastikan bahwa BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar. Jika harga minyak dunia naik, harga BBM juga ikut meningkat; sebaliknya, jika harga minyak turun, harga BBM berpotensi menurun pula. “Kita tidak ingin terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia,” ujarnya.

Sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kenaikan harga Pertamax tak akan berdampak pada inflasi karena BBM tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan masyarakat menengah ke atas, bukan transportasi massal atau industri. “Kita harus optimis dan tenang,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN.

Pertamina pun mengedepankan layanan stabil dengan memastikan distribusi BBM di SPBU terus berjalan. Dari foto, para pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar di SPBU Jakarta, menunjukkan keadaan normal dalam sistem penerapan harga BBM.