BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kembali memperkuat strategi penguatan rupiah dengan menyusun kebijakan yang dinilai efektif dalam menghadapi tekanan eksternal. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, rupiah berpotensi mereda tekanannya pada paruh kedua 2026 karena kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasikan.
Purbaya menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah sangat bergantung pada kinerja pasar modal. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, ia mengatakan tekanan rupiah masih terjadi akibat faktor eksternal seperti sentimen global dan sikap hati-hati investor (risk-off). Namun, optimisme pemerintah terhadap perbaikan kondisi pasar diwujudkan melalui pengelolaan cadangan devisa dan meningkatnya kepercayaan investor.
Kebijakan fiskal yang ditetapkan pemerintah, termasuk penyesuaian anggaran dan stimulus ekonomi, diimbangi dengan langkah BI dalam mengendalikan pasokan devisa. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valuta asing. BI memperkuat kebijakan suku bunga acuan, dengan peningkatan 50 basis poin pada Mei dan 25 basis poin pada Juni 2026. Langkah ini bertujuan menarik modal asing yang sebelumnya mengalir keluar akibat gejolak pasar internasional.
Selain itu, BI memperketat pengawasan transaksi valuta asing dengan batasan maksimal US$ 25.000 per pelaku bulanan untuk pembelian dan transfer dolar AS ke luar negeri. Bank juga menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen pengelolaan dana global. BI melakukan lelang SRBI dua kali per minggu dengan insentif 10% penurunan biaya swap lindung nilai untuk investor asing.
Kinerja pasar modal terus membaik, menunjukkan net inflow arus modal asing sebesar Rp 18,5 triliun pada instrumen SBN dan Rp 78,5 triliun pada SRBI. Meski ada outflow pada saham, minat investor terhadap instrumen keuangan domestik tetap stabil. Data ini mengindikasikan rencana peningkatan daya tarik investasi di Indonesia.
Purbaya memastikan bahwa strategi koordinasi antara pemerintah dan BI akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas rupiah. “Kami berharap keberhasilan ini mampu memperkuat cadangan devisa dan meningkatkan likuiditas valuta asing,” kata dia. Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berkomitmen untuk menghadapi tekanan eksternal sekaligus menjamin keseimbangan ekonomi nasional.