[BeritaLokal], Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengakui bahwa armada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek yang beroperasi saat ini masih didominasi oleh unit-unit bekas impor dari Jepang, dengan usia rata-rata mencapai 34 hingga 41 tahun. Dengan jumlah total sekitar 908 unit, keadaan ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk melakukan regenerasi armada, terutama dalam konteks peningkatan kapasitas penumpang dan pengelolaan sarana yang memasuki masa konservasi.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa kebutuhan pengadaan KRL baru bukan hanya sekadar respons terhadap peningkatan volume penumpang, tetapi juga strategi proaktif untuk menghindari gangguan operasional akibat usia kereta yang telah melewati batas teknis dan keamanan. Proyek ini dijalankan dalam kerangka pengadaan sarana KRL Jabodetabek yang diperkirakan mencapai nilai Rp 9,18 triliun, dan didukung oleh Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 5,3 triliun, sekitar 58 persen dari total biaya proyek.
Komponen pendanaan proyek ini terdiri atas dana PMN 2024 sebesar Rp2 triliun, PMN 2025 sebesar Rp1,8 triliun, dan PMN 2026 yang masih dalam proyeksi sebesar Rp1,5 triliun. Selain itu, dana pinjaman bank sebesar Rp3,69 triliun dan kas internal PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sekitar Rp190 miliar juga menjadi bagian dari pendanaan total. PMN 2024 telah terserap penuh, sementara PMN 2025 telah diterima KAI pada 31 Desember 2025 dan diserahkan kepada KCI pada 20 Mei 2026. Dari total PMN 2025, sebesar Rp744,46 miliar telah dibayarkan kepada PT INKA, sedangkan sisanya sekitar Rp1,05 triliun akan dicairkan secara bertahap berdasarkan progres pembuatan trainset.
Armada baru yang akan diadopsi terdiri atas 16 trainset (192 unit) dari PT INKA, 3 trainset (36 unit) dari CRRC Qingdao Sifang Co Ltd, dan 8 trainset (96 unit) dari CRRC China, yang bersifat impor dan berusia kurang dari satu tahun. Selain itu, ada juga rencana pengadaan 8 trainset (96 unit) dari INKA yang belum dikontrak, serta dua trainset (24 unit) yang akan diperbaiki melalui retrofit. Proyek ini diharapkan selesai pada bulan September 2026, sesuai dengan jadwal recovery yang telah ditetapkan.
Dari segi volume penumpang, KAI memproyeksikan pertumbuhan sekitar 4 persen per tahun, dengan target mencapai 437 juta penumpang pada tahun 2030. Namun, data realisasi pada 2025 telah menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan, mencapai 357 juta pengguna, melampaui proyeksi awal yang diberikan. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan armada yang lebih modern dan efisien tidak hanya teoritis, tetapi juga empiris dan mendesak.
KAI juga menyampaikan bahwa pengadaan KRL baru akan dilakukan dengan pendekatan yang mengintegrasikan kebutuhan teknis, ekonomi, dan operasional. Dengan dukungan pemerintah, KAI berkomitmen untuk menjamin kualitas, keamanan, dan kenyamanan layanan penumpang dalam jangka panjang, sambil mempercepat transformasi armada yang telah menjadi simbol usia dan keterbatasan teknis.
Dengan arah strategis ini, KAI tidak hanya menghadapi tantangan teknis, tetapi juga memperkuat posisi sebagai penyedia transportasi publik yang modern, andal, dan berkelanjutan di wilayah Jabodetabek.
Artikel Terkait
Kereta Mewah Nusantara Explorer Harga Tiket Dilajur
25 Juli 2026
KAI Tingkatkan Layanan dengan CRM dan Voice of Customer
22 Juli 2026
KAI & INKA Capai Integrasi, Siap Produksi 156 KRL
22 Juli 2026
LRT Jabodebek Mogok di Cawang, KAI Maafkan Penumpang
22 Juli 2026
Kereta Api KAI Rekor 308.874 Wisatawan Asing 2026
20 Juli 2026
Kereta Api Jadi Pariwisata: 10 Stasiun Favorit Turis
17 Juli 2026
Tancap Gas ke B50, KAI Bidik Turunkan Emisi 133 Ribu Ton CO₂e
14 Juni 2026
KAI Mau Tambah Jumlah KRL Rangkasbitung
3 Juni 2026
Memuat komentar...