Rupiah Ambruk ke Rp 18.129 per Dolar AS, IHSG Ikut Turun Hampir 3%

[BeritaLokal], Jakarta – Tekanan ekonomi global yang semakin membesar telah memicu penurunan tajam nilai tukar rupiah dan penurunan signifikan di pasar saham nasional. Pada Senin (8/6/2026), rupiah melemah ke level Rp 18.129 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hampir 2,92% menjadi 5.431 poin. Kedua indikator ini mencerminkan kekhawatiran pasar global yang mendorong dolar AS untuk mempertahankan posisinya sebagai aset aman di tengah ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter ketat di AS.

Faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah dan penurunan IHSG adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, serta eskalasi situasi di Palestina dan Lebanon Selatan telah memperkuat kecemasan pasar terhadap stabilitas global. Investor global, yang biasanya mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS, mulai mengalihkan posisi mereka dari aset berisiko, termasuk aset domestik Indonesia. Dampaknya, dolar AS menguat, dan harga minyak dunia juga naik, menambah beban bagi ekonomi Indonesia yang sangat tergantung pada impor.

Selain tekanan geopolitik, kebijakan moneter AS yang tetap ketat juga berkontribusi. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memungkinkan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, menarik arus modal global kembali ke AS. Hal ini memperkuat dolar AS dan menurunkan nilai tukar rupiah, yang sebelumnya telah terpapar tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.

Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kinerja fiskal dan ekonomi. Kenaikan harga minyak dunia memperbesar kebutuhan valuta asing, yang berpotensi memperlebar defisit anggaran. Di samping itu, inflasi domestik menunjukkan tren meningkat, sementara surplus neraca perdagangan mulai menyempit dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, sentimen negatif di pasar keuangan nasional semakin memburuk setelah muncul kabar penurunan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, serta spekulasi mengenai kemungkinan perubahan status pasar modal Indonesia dalam indeks global MSCI. Meskipun pengumuman MSCI akan datang pertengahan Juni, kekhawatiran ini telah mendorong arus keluar modal besar di pasar modal, yang berdampak langsung pada penurunan IHSG.

Meskipun Bank Indonesia, pemerintah, dan Otoritas Jasa Keuangan telah melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi untuk meredam volatilitas, upaya tersebut dinilai belum cukup efektif untuk membangun kembali kepercayaan pasar. Kebutuhan pembiayaan berbagai program pemerintah di tengah tekanan fiskal yang meningkat menjadi faktor kunci yang memperburuk situasi. Investor masih menganggap bahwa kebijakan fiskal dan moneter nasional belum mampu menyeimbangkan tekanan eksternal dengan kebutuhan domestik.

Tekanan ini berpotensi berlanjut hingga akhir Juni, jika faktor-faktor pemicu tetap tidak mereda. Dengan kinerja ekonomi global yang tidak menentu dan tekanan domestik yang semakin membesar, rupiah dan IHSG harus tetap diawasi secara ketat oleh regulator dan pemerintah untuk memastikan stabilitas pasar keuangan nasional.