BeritaLokal, Jakarta – Selain itu, Kim Yo-jong, saudari pemimpin Korea Utara yang kaya akan kekuatan politik, menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan mengubah program senjata nuklirnya. Pernyataan keras ini disampaikan sehari sebelum kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Pyongyang, dalam konteks dinamika diplomatik yang terus berlangsung di Semenanjung Korea.
Pernyataan Kim Yo-jong muncul setelah pertemuan antara Trump dan Xi Jinping di Beijing bulan lalu, saat keduanya menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi Semenanjung. Namun, Kim Yo-jong mengkritik klaim AS yang menyebut Washington dan Beijing memiliki tujuan bersama untuk mendorong perubahan itu. Menurutnya, status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah oleh pernyataan sepihak pihak lain.
“Perintah AS yang mengkritik status Republik Demokratik Rakyat Korea sebagai negara senjata nuklir tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat,” kata Kim Yo-jong, menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Pyongyang masih “mimpi pelarian dan usang”. Pernyataan ini disertai dengan kritik terhadap pejabat AS yang dianggap terjebak dalam “harapan denuklirisasi” yang tidak lagi relevan.
Dalam wawancara dengan Arab News, Kim Yo-jong menyebutkan bahwa Korea Utara semakin mempercepat pengembangan program nuklirnya setelah diplomasi antara Kim Jong Un dan Trump gagal mencapai kesepakatan pada 2019. Pekan lalu, Kim Jong Un mengunjungi fasilitas produksi material nuklir dan menyatakan kekuatan nuklir negara akan diperkuat dengan “laju eksponensial”. Media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa Kim baru saja mengunjungi pabrik senjata dan memerintahkan peningkatan kapasitas produksi rudal hingga 2,5 kali lipat dalam lima tahun rencana.
Menurut Kim Yo-jong, kebijakan AS dan Korea Selatan terus meningkatkan kemampuan militernya di kawasan. Karena itu, ia menegaskan bahwa keputusan memperkuat penangkal nuklir adalah “kesimpulan akhir yang tidak dapat ditawar lagi”.
Jelang kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang, agenda utama kunjungan tersebut mencakup memastikan pengaruh Beijing terhadap Pyongyang, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin mendekat ke Rusia. Hubungan Korea Utara-Rusia menguat sejak perang di Ukraina, dengan Korea Utara dituduh memasok pasukan dan persenjataan untuk membantu operasi militer Moskow. Sebaliknya, Seoul dan Washington menuduh Rusia memberikan bantuan ekonomi dan dukungan lain terhadap Pyongyang.
Di tengah dinamika ini, sikap Kim Yo-jong makin jelas bahwa Korea Utara belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke meja perundingan denuklirisasi. Kebijakan yang diambil oleh Kim Jong Un dan keluarganya terus menjadi sorotan dalam dinamika politik Semenanjung Korea.
Artikel Terkait
Diplomasi Bola GBK Indonesia vs Tim Gabungan Piala Dunia
18 Juli 2026
Prabowo Tegaskan Perlindungan Kekayaan Indonesia
17 Juli 2026
Donald Trump Hadir di Final Piala Dunia 2026
17 Juli 2026
Prabowo ke Prancis, Menko Airlangga Tetap Jakarta
16 Juli 2026
Prabowo Beri Angklung ke PM India, Simbol Persahabatan Budaya
7 Juli 2026
Diplomasi Drives Indonesia’s Economic Growth
24 Juni 2026
Xi Jinping Tiba di Korut, Disambut Langsung Kim Jong un
8 Juni 2026
Makin Gila, Kim Jong Un Genjot Produksi Senjata Nuklir Korut
4 Juni 2026
Memuat komentar...