Kurs rupiah terus melemah hingga mencetak rekor psikologis baru di level 18.000 per dolar AS hari ini, Kamis 4 Juni 2026.
PerbesarPetugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta. Nilai tukar rupiah terus melemah hingga mencetak rekor psikologis baru di level 18.000 per dolar AS pada Kamis, 4 Juni 2026. (/Angga Yuniar)
, Jakarta – Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta menilai respons terkoordinasi dari otoritas diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan terhadap rupiah dan IHSG yang masih berlangsung.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah terus melemah hingga mencetak rekor psikologis baru di level 18.000 per dolar AS pada Kamis. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi tajam dengan penurunan 3,48 persen pada penutupan sesi I perdagangan Kamis.
Dikutip dari Antara, Kamis (4/6/2026), Nafan mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) perlu melakukan intervensi yang lebih agresif di pasar valuta asing (valas) dan Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga stabilitas rupiah.
Pada saat yang sama, menurut dia, pemerintah perlu memperkuat kebijakan insentif devisa hasil ekspor (DHE) untuk meningkatkan pasokan devisa di dalam negeri.
Selain itu, Danantara perlu memberikan klarifikasikebijakan operasional serta isu sektoral yang berkembang guna meredam ketidakpastian di pasar.
Kementerian BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dinilai perlu mengoptimalkan peran pembeli siaga (standby buyer) serta program buyback saham BUMN untuk menjaga likuiditas dan kepercayaan investor, lanjutnya.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu menerapkan mekanisme auto rejection yang simetris maupun asimetris secara terukur guna menjaga keteraturan perdagangan dan meredam volatilitas pasar yang berlebihan.
Dalam risetnya, Nafan mencatat bahwa secara teknikal IHSG sebenarnya telah berada dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), meskipun downtrend masih berlangsung. Sementara itu, Stochastics K-D masih menunjukkan sinyal negatif, namun volume transaksi mulai menguat.
Tekanan Terhadap pasar
PerbesarPosisi dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.000 pada Kamis pagi, (4/6/2026). (Foto: Istimewa)
Menurut dia, tekanan terhadap pasar juga masih dipengaruhi oleh aksi jual investor asing yang berlanjut. Pada perdagangan Rabu (3/6), investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp864 miliar, sehingga menambah tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Selain itu, sentimen negatif turut dipicu oleh keputusan Moody’s memberikan peringkat Baa2 (investment grade) kepada Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif. Outlook tersebut mengindikasikan adanya potensi penurunan rating ke depan apabila berbagai faktor risiko tidak menunjukkan perbaikan.
Ia menilai bahwa pasar merespons sentimen tersebut secara negatif, sehingga memicu aksi jual yang menekan pergerakan IHSG. Kondisi itu juga turut membebani nilai tukar rupiah yang melemah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengantisipasi sentimen jangka pendek dari rebalancing indeks global FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026. Penyesuaian indeks tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dana pasif asing yang melakukan penyesuaian portofolio.
Dari eksternal, meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran di tengah ketidakpastian perundingan turut mendorong kenaikan risk perception investor. Selain itu, pasar juga menantikan rilis US Nonfarm Payrolls periode Mei pada akhir pekan ini yang dinilai dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan.
