beritalokal.my.id, Jakarta – Strategy (MSTR), yang dikenal sebagai korporasi pemegang Bitcoin terbesar di dunia, mengonfirmasi telah menjual 32 Bitcoin (BTC) untuk membiayai pembayaran dividen saham preferen STRC. Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara kepemilikan aset kripto dan kewajiban kepada para pemegang saham.
Dalam dokumen yang diajukan kepada regulator, dikutip dari CoinMarketCap, Selasa S(2/6/2026), trategy menjelaskan bahwa penjualan Bitcoin tersebut digunakan untuk mendukung pembayaran dividen bulanan bagi investor yang memiliki saham preferen STRC.
Selain menjual sebagian kecil cadangan Bitcoin, perusahaan juga berhasil menghimpun dana sekitar USD 128,3 juta melalui penjualan 801.994 lembar saham biasa.
Per 31 Mei 2026, Strategy tercatat masih memiliki 843.706 BTC. Jumlah tersebut membuat perusahaan tetap menjadi salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
Saham preferen STRC sendiri merupakan instrumen investasi yang dirancang untuk memberikan dividen variabel setiap bulan dengan target imbal hasil tahunan sebesar 11,5%.
Besaran dividen yang diterima investor dapat berubah mengikuti harga perdagangan saham STRC dibandingkan nilai nominalnya yang berada di level USD 100 per saham.
Sesuai Kondisi Pasar
PerbesarIlustrasi Bitcoin (Ist)
Mekanisme STRC dirancang agar tingkat dividen dapat menyesuaikan kondisi pasar.
Jika saham STRC diperdagangkan di atas nilai nominal USD 100, tingkat dividen akan menurun. Sebaliknya, apabila harga saham berada di bawah USD 100, tingkat dividen akan meningkat.
Pembayaran dividen tersebut bersumber dari kas perusahaan.
Dalam praktiknya, Strategy hanya menggunakan dana hasil penerbitan saham STRC untuk membeli Bitcoin tambahan ketika harga saham tersebut diperdagangkan di atas nilai nominalnya.
Namun, saat harga STRC berada di bawah USD 100 seperti yang terjadi pekan lalu, perusahaan harus mengandalkan cadangan kas untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen kepada investor.
Struktur tersebut menciptakan hubungan langsung antara kinerja pasar saham STRC dengan strategi akumulasi Bitcoin yang dijalankan perusahaan.
Dengan kata lain, kemampuan Strategy membeli Bitcoin tambahan sangat dipengaruhi oleh performa saham preferen tersebut di pasar.
Tergolong Kecil
PerbesarBitcoin adalah salah satu dari implementasi pertama dari yang disebut cryptocurrency atau mata uang kripto.
Bagi investor, transaksi terbaru ini menunjukkan bagaimana Strategy mengombinasikan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar dengan berbagai instrumen keuangan untuk mendukung strategi bisnisnya.
Penjualan 32 BTC memang tergolong kecil dibandingkan total kepemilikan perusahaan yang mencapai lebih dari 843 ribu Bitcoin. Namun, langkah tersebut memperlihatkan adanya biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk mempertahankan pembayaran dividen STRC secara berkelanjutan.
Di sisi lain, dana segar sebesar USD 128,3 juta dari penjualan saham biasa memberikan tambahan likuiditas yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pembelian Bitcoin baru maupun kebutuhan operasional perusahaan.
Kemampuan Strategy dalam memenuhi kewajiban dividen tanpa harus mengurangi secara signifikan cadangan Bitcoin menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan para pemegang saham.
Strategi yang menggabungkan akumulasi Bitcoin secara agresif dengan produk investasi berbasis dividen seperti STRC telah menarik minat dua kelompok investor sekaligus, yakni pendukung aset kripto dan investor yang mencari pendapatan rutin.
