beritalokal.my.id, Tel Aviv – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menambahkan Israel ke daftar hitam pelaku kekerasan seksual di zona konflik, mendorong Israel memutus hubungan dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres.
“Kami tidak akan lagi bekerja sama dengan Sekjen ini,” kata Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon. dalam sebuah video yang diunggah di X pada Kamis (28/5/2026), seraya mengecam laporan yang akan segera diterbitkan oleh kantor Guterres.
Laporan tahunan Sekjen PBB mengenai kekerasan seksualkonflik biasanya disampaikan kepada negara-negarasebelum dipublikasikan. Pada Agustus tahun lalu, laporan tersebut memperingatkan bahwa Israel dapat dimasukkan ke dalam daftar pihak yang diduga melakukan atau bertanggung jawab atas kekerasan seksual dalam situasi konflik bersenjata.
“Keputusan untuk memasukkan Israel ke dalam daftar hitam dan menuduh kami menggunakan kekerasan seksual sebagai senjata perang adalah keputusan yang keterlaluan,” kata Danon.
“Sekjen dan timnya terus menyebarkan kebohongan tentang Israel. Menempatkan kami dan teroris Hamas dalam daftar yang sama, itu tidak dapat diterima.”
Misi Israel untuk PBB mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan kontak apa pun dengan kantor Sekjen selama Guterres masih menjabat sebagai kepala organisasi tersebut.
Kementerian Luar Negeri Israel juga menyampaikan kemarahannya atas laporan yang akan segera diterbitkan itu.
“Keputusan PBB yang memalukan dan tidak masuk akal untuk memasukkan entitas-entitas Israel ke dalam lampiran laporan CRSV (kekerasan seksualkonflik) merupakan bukti lebih lanjut tentang hakikat sebenarnya PBB: sebuah organisasi yang dipolitisasi dan korup yang telah meninggalkan prinsip-prinsip pendiriannya dan secara sistematis menjadikan Israel sebagai misi utamanya,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Oren Marmorstein di X.
Juru bicara Guterres mengatakan pihaknya mengetahui pernyataan Danon tersebut.
“Dari pihak kami, pintu Sekjen tetap terbuka,” tutur Stephane Dujarric seperti dikutip dari Al Jazeera.
Reem Alsalem, Pelapor Khusus PBB untuk Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan, mengatakan bahwa memasukkan Israel ke dalam daftar hitam atas kekerasan seksual merupakan langkah yang sudah lama tertunda.
“Pencantuman ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama,” tulis Alsalem di X.
“Saya sebelumnya telah menyampaikan kekecewaan karena Israel belum dimasukkan ke dalam daftar tersebut, mengingat kekerasan seksual yang sistematis, berskala besar, dan mengerikan yang dilakukan Israel terhadap perempuan, laki-laki, dan anak-anak Palestina telah didokumentasikan dan diverifikasi secara independen,” tambahnya.
Pola Kekerasan yang Sistematis
Pada Agustus tahun lalu, PBB mengutip adanya “informasi yang kredibel” mengenai kekerasan seksual yang dilakukan pasukan keamanan Israel terhadap tahanan Palestina di penjara dan pusat-pusat penahanan lainnya, serta menyatakan bahwa para pemeriksa PBB telah ditolak aksesnya ke fasilitas-fasilitas tersebut.
“Kami mengundang perwakilan PBB untuk datang ke Israel guna memeriksa tuduhan-tuduhan konyol tersebut. Mereka memilih untuk tidak datang,” kata Danon.
Warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, terutama mereka yang ditangkap dari Gaza selama perang yang berlangsung sejak 2023, telah lama mengungkapkan bagaimana mereka mengalami perlakuan yang merendahkan martabat kemanusiaan dari para penjaga dan tentara, termasuk penyiksaan dan kekerasan seksual. Menurut organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional, kesaksian-kesaksian tersebut merupakan bagian dari pola yang lebih luas dan sistematis.
Selain itu, sebuah laporan dari West Bank Protection Consortium bulan lalu menemukan bahwa kekerasan seksual dan bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender lainnya yang dilakukan oleh pemukim dan tentara Israel mendorong warga Palestina meninggalkan Tepi Barat yang diduduki.
Pengakuan mengenai kekerasan yang dilakukan selama penahanan oleh Israel juga datang dari warga negara asing yang berada di atas armada bantuan menuju Gaza baru-baru ini. Mereka mengaku mengalami berbagai bentuk kekerasan selama ditahan, termasuk sedikitnya 15 kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan.
Awal bulan ini, Israel menolak tuduhan pemerkosaan yang dilakukan pasukannya, yang dirinci dalam sebuah kolom tulisan jurnalis senior The New York Times Nicholas Kristof. Pemerintah Israel menanggapi laporan tersebut dengan menyatakan akan mengambil langkah luar biasa dengan menggugat surat kabar itu. Laporan Kristof didasarkan pada kesaksian 14 korban Palestina, baik laki-laki maupun perempuan.
Hubungan antara PBB dan Israel telah lama diwarnai ketegangan dan mencapai titik terendah sejak 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan yang kemudian diikuti oleh perang di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina.
Otoritas Israel telah mengkritik Guterres dan pejabat-pejabat PBB lainnya atas kecaman mereka terhadap tindakan brutal Israel di Gaza. Sekjen PBB itu dinyatakan sebagai “persona non grata” di Israel pada 2024.
