beritalokal.my.id, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan sempat menembus Rp 17.877 per dolar AS.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan pemerintah tetap menjaga harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar agar tidak berubah hingga akhir tahun 2026.
“Untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan (tidak naik hingga akhir tahun),” ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/5/2026).
Selain memastikan harga tetap stabil, pemerintah juga menjamin ketersediaan pasokan BBM bersubsidi dalam kondisi aman. Menurut Yuliot, stok BBM nasional saat ini berada di atas batas minimum cadangan operasional yang ditetapkan pemerintah.
Sebagai informasi, standar minimal stok operasional nasional berada pada level 23 hari.
“Misalkan untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal, dan juga untuk solar CN48 itu juga di atas cadangan minimal,” katanya.
Tidak hanya BBM subsidi, pasokan BBM nonsubsidi juga disebut berada dalam kondisi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus bergerak melemah dan telah memasuki kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Pemerintah Dorong Produksi Minyak Dalam Negeri
PerbesarWakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/5/2026). (beritalokal.my.id/Maulandy)
Menghadapi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah meningkatkan produksi minyak mentah dari dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Selain itu, pemerintah juga terus mempersiapkan pengembangan dan optimalisasi kilang minyak nasional agar kebutuhan energi domestik dapat dipenuhi secara lebih efisien.
“Produksi di dalam negeri kami dorong untuk peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kami sudah siapkan,” ujar Yuliot.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor energi yang sebagian besar masih menggunakan mata uang dolar AS.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi saat ini masih terkendali dan tidak berdampak pada kebijakan harga BBM subsidi yang telah ditetapkan.
