Pengaruh Belanja Online pada Pasar Seragam Sekolah di Banyumas

BeritaLokal, Purwokerto – Pemanfaatan belanja online yang semakin masif mulai memengaruhi dinamika pasar seragam sekolah di wilayah Banyumas. Tren ini menggeser permintaan pembeli dari toko fisik ke platform daring, membuat pedagang tradisional seperti Liyanto, seorang kios seragam di Kebondalem, terpaksa beradaptasi dengan perubahan. Sejak 1995, ia telah menjual seragam mulai dari Rp100 ribu hingga Rp300 ribu, tetapi kini, omzetnya turun signifikan dibandingkan musim sambang tahun ajaran baru.

Kondisi di pasar fisik justru terasa lebih “sepi” karena masyarakat lebih mengutamakan produk siap pakai yang praktis dan murah. Liyanto menyebut, seminggu sebelum sekolah dimulai, toko seragam kini hanya mampu menampung 30-40 pembeli. “Dulu, setiap hari sibuk hingga sore, tetapi kini, pembeli lebih memilih belanja online karena bisa langsung coba dan memperoleh ukuran yang tepat,” katanya.

Meski demikian, pasar fisik tidak sepenuhnya mati. Endang, warga Karanglewas, tetap membeli seragam secara langsung untuk memastikan kualitas dan ukuran sesuai kebutuhan anak SMP. “Jika belanja online, tidak bisa dicoba, kadang terlalu besar atau kecil,” ujarnya. Tren ini disebutkan pula oleh Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, yang menegaskan bahwa masyarakat lebih menyukai pakaian siap pakai karena praktis.

Pemerintah daerah berupaya memantau dampak tren ini terhadap industri konveksi lokal. Gatot mengatakan, pihaknya akan melakukan riset khusus untuk mengetahui kendala yang dihadapi pelaku UMKM tekstil setiap tahun ajaran baru. “Selama ini, para pelaku usaha jarang melaporkan dinamika pesanan mereka,” katanya. DPKUKM juga menyebutkan bahwa data pasti belum tersedia, sehingga perlu pendalaman lebih lanjut untuk mengetahui dampak jangka panjang terhadap ekonomi lokal.

Kondisi ini mencerminkan pergeseran kebutuhan konsumen yang semakin digitalisasi. Meski demikian, pedagang tradisional tetap berupaya memperluas bisnis dengan mengekspor Alat Tulis Kantor (ATK) dan menggarap pasar daring. “Tapi, belum mampu menandingi dominasi toko online,” ujar Liyanto yang terpaksa mengurangi stok barang dari Solo dan Bandung karena penjualan melambat.

Pengaruh tren belanja online justru semakin terasa di tengah keterbatasan kapasitas pasar fisik, menyebabkan para pedagang harus berpikir strategi baru untuk bertahan. Dengan demikian, keberlanjutan ekonomi lokal bergantung pada kemampuan mereka menghadapi perubahan dinamika konsumsi dan teknologi digital.

Artikel Terkait

0