5 Juni 1967: Perang Enam Hari Ubah Kondisi Politik Timur Tengah

Bagaimana berakhirnya Perang Enam Hari ini bisa mengubah peta politik dan wilayah Timur Tengah secara drastis?

PerbesarPerang antara kelompok militan Hamas dan Israel telah memasuki hari keenam pada Kamis (12/10/2023). (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

, Kairo – Tepat 59 tahun lalu, pada 5 Juni 1967, pecah Perang Enam Hari yang menjadi salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah modern Timur Tengah. Dalam waktu kurang dari sepekan, perang tersebut mengubah peta geopolitik kawasan dan dampaknya masih terasa hingga saat ini.

Konflik berlangsung antara Israel dan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Mesir serta didukung Yordania dan Suriah. Perang dimulai ketika Israel melancarkan serangan udara mendadak ke sejumlah pangkalan militer Mesir pada pagi hari 5 Juni 1967.

Dilansir dari EBSCO, serangan tersebut berhasil melumpuhkan sebagian besar kekuatan udara Mesir hanya dalam hitungan jam. Keunggulan itu kemudian memungkinkan Israel melancarkan operasi militer cepat di berbagai medan pertempuran.

Pasukan Israel bergerak ke Semenanjung Sinai, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan. Dalam enam hari, Israel berhasil menguasai wilayah yang luas dan mencatat salah satu kemenangan militer paling signifikan dalam sejarah negara tersebut.

Salah satu peristiwa paling penting terjadi pada 7 Juni 1967 ketika pasukan Israel memasuki Kota Tua Yerusalem dan mengambil alih Yerusalem Timur. Peristiwa itu menjadi titik balik yang hingga kini masih memengaruhi konflik Israel-Palestina.

Sementara itu, pertempuran di Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan terus berlangsung hingga gencatan senjata mulai diberlakukan pada 10 Juni 1967.

Perang Enam Hari menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar di kedua pihak. Ribuan tentara Arab dan Israel tewas, sementara ratusan ribu warga Palestina kembali mengungsi akibat konflik tersebut.

Selain dampak kemanusiaan, perang ini juga memicu perubahan politik besar di kawasan. Kekalahan negara-negara Arab memperkuat gerakan nasionalisme Palestina dan mengubah dinamika hubungan antara Israel dan dunia Arab.

Setelah perang berakhir, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 yang menyerukan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki serta terciptanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah.

Hampir enam dekade kemudian, sejumlah isu yang muncul akibat perang tersebut masih menjadi sumber ketegangan regional. Status Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan tetap menjadi salah satu persoalan utama dalam diplomasi internasional dan konflik Timur Tengah.



error: Content is protected !!