Sherly Tjoanda Bidik Maluku Utara jadi Acuan Hilirisasi Nikel Global

BeritaLokal, Jakarta – Pemimpin Daerah: Sherly Tjoanda Fokus pada Hilirisasi Nikel sebagai Langkah Kunci

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa daerah ini memiliki potensi besar untuk menjadi acuan global dalam praktik hilirisasi nikel berkelanjutan. Dengan kontribusi sekitar 13-15 persen terhadap pasokan nikel dunia, Maluku Utara kini dijuluki sebagai “simpul strategis” dalam rantai pasok mineral kritis global. Perkembangan ini disampaikan dalam diskusi bilateral dengan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, yang menjadi bagian dari Indonesia Critical Minerals Conference 2026.

Meskipun telah memperkuat posisi ekonomi daerah, Tjoanda menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya terukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi atau investasi, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat lokal. “Kita harus memastikan masyarakat dapat mengambil peran yang lebih besar dalam rantai nilai industri,” kata Tjoanda, menegaskan bahwa pendidikan dan keterampilan warga menjadi kunci keberhasilan.

Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada kuartal I 2026 mencapai 19,64 persen, tertinggi di Indonesia, ditopang oleh aktivitas pengolahan dan pertambangan yang berkembang pesat. Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik menyumbang 96,65 persen ekspor daerah. Selain itu, nikel menjadi kontributor utama investasi hilirisasi di Indonesia pada Januari-Maret 2026, dengan kontribusi sekitar Rp 41,5 triliun dari total Rp 147,5 triliun realisasi investasi.

Pengakuan kelas dunia juga diberikan kepada IWIP di Maluku Utara, tempat ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia melakukan kunjungan kerja. Ovan Tito, Ketua ESDM, menilai praktik hilirisasi nikel di sana bisa menjadi acuan global dalam mendukung transisi energi dunia. “Kami melihat ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus meningkatkan standar keberlanjutan,” ujar Ovan setelah mengunjungi langsung proses produksi di lapangan.

Tjoanda juga menekankan perlu pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri, agar masyarakat lokal bisa mengisi posisi strategis. Dengan pendekatan ini, daerah tidak hanya memperkuat ekonomi tetapi juga memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara terus bertahan meski dihadapkan pada tantangan deforestasi akibat eksploitasi tambang nikel di Halmahera Tengah, wilayah yang dulunya sebagai hutan alam. Dengan perhatian terhadap lingkungan, daerah tetap menjaga kesejahteraan sosial-ekonomi warga sekaligus memperkuat potensi industrinya.

Artikel Terkait

0