Ekonomi Maluku Utara Tumbuh 34%, Hilirisasi Nikel Jadi Kunci

Hilirisasi nikel telah mengubah Maluku Utara jadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia.

PerbesarIlustrasi tambang nikel. (Foto oleh AFP)

, Jakarta – Hilirisasi nikel telah mengubah Maluku Utara dari daerah penghasil sumber daya alam menjadi salah satu kawasan industri dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi tahun lalu mencapai 34 persen secara tahunan dan pada triwulan I tahun ini sebesar 19,6 persen,” kata Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dikutip dari Antara, Kamis (4/6/2026).

Menurut dia, pengembangan industri hilirisasi nikel telah mendorong investasi, membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur industri, serta menghubungkan Maluku Utara dengan rantai pasok global kendaraan listrik dan baja nirkarat.

Ia menjelaskan Maluku Utara telah menjadi salah satu pusat hilirisasi nikel nasional melalui pengembangan kawasan industri seperti Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah yang terintegrasi dari pertambangan hingga pengolahan nikel untuk bahan baku baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik.

“Hilirisasi telah mengubah perekonomian Maluku Utara secara signifikan,” ujarnya.

Ia mengatakan Maluku Utara saat ini berkontribusi sekitar seper tujuh produksi nikel global dan menjadi bagian penting dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Sherly menilai tahap berikutnya dari pengembangan hilirisasi perlu difokuskan pada penguatan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Tahap berikutnya harus fokus pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara, lanjut dia, mendorong lebih banyak pelaku UMKM lokal masuk ke rantai pasok industri, mulai dari katering, logistik, jasa perawatan, jasa penatu, hingga penyediaan alat keselamatan kerja.

Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat sektor pertanian dan perikanan agar kebutuhan pangan kawasan industri dapat dipenuhi petani dan nelayan lokal.

 

Kebutuhan Konsumsi Pangan

PerbesarPetani memisahkan gabah saat panen padi di sawah Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo (15/3). Mereka lebih memilih menggunakan tenaga manusia agar Kebersamaan mereka terhaga. (/Arfandi Ibrahim)

Sherly menyebut kebutuhan konsumsi pangan kawasan industri di Maluku Utara mencapai sekitar Rp100 miliar per bulan atau sekitar Rp1,2 triliun per tahun, namun sebagian besar pasokan masih berasal dari luar daerah.

Saat ini, sekitar 20 persen kebutuhan konsumsi kawasan industri tersebut dipenuhi dari produksi lokal.

Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan penguatan infrastruktur pertanian dan perikanan untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal secara bertahap.

“Harapannya kebutuhan ayam, daging, telur, hingga beras nantinya dapat diproduksi secara lokal,” ucap Sherly.

Di sisi sumber daya manusia, pemerintah daerah juga memperkuat pendidikan vokasi dan politeknik agar masyarakat lokal dapat mengisi lebih banyak posisi teknis dan manajerial di industri hilirisasi.

Sherly mengatakan pihaknya tengah berdiskusi dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk pengembangan pendidikan vokasi di bidang metalurgi, kelistrikan, dan teknik.

 



error: Content is protected !!