BeritaLokal, Jakarta – Pasar keuangan global terus menghadapi tekanan akibat ketidakpastian geopolitik yang meliputi konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap permintaan komoditas. Dalam kaitannya dengan kondisi ini, harga minyak tetap berada pada level tinggi meski ada pergeseran dalam arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
Menurut riset Ashmore Asset Management Indonesia, masih ada beberapa faktor yang memengaruhi volatilitas pasar. Salah satunya adalah ketegangan di wilayah yang mengakibatkan gangguan pasokan energi, terutama dari Selat Hormuz. Meski ada upaya perundingan damai antara AS dan Iran, isu-isu seperti perbedaan tuntutan negara tetap menjadi penyebab utama ketidakpastian. Di sisi lain, kebijakan pemerintah di Indonesia menyoroti pentingnya penyesuaian undang-undang Bank Indonesia (BI) untuk mencakup pertumbuhan sektor riil dan pembukaan lapangan kerja, meski masih ada perluasan mandat BI terkait inflasi dan stabilitas keuangan.
Analisis Ashmore menunjukkan bahwa kebijakan ini mungkin berdampak positif pada perekonomian jangka panjang, tetapi investor tetap memantau risiko seperti independensi bank sentral dan visibilitas implementasi kebijakan. “Meskipun ada peluang manfaat dari perubahan kebijakan, investor masih mengamati bagaimana tujuan tersebut akan diimplementasikan,” kata sumber yang tidak dikenal.
Di tengah ketegangan global, ekonomi dunia terus berada dalam posisi hati-hati dengan premi jangka waktu yang tinggi. Pasar harapan penyelesaian konflik Timur Tengah lebih cepat dan peningkatan arus barang melalui Selat Hormuz sebagai kunci untuk mengurangi tekanan pada harga minyak.
Dalam konteks keuangan lokal, rupiah masih terpengaruh oleh ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Menurut data anggaran negara Mei 2026, defisit fiskal tetap di bawah 3% pada 2026 meskipun pertumbuhan pendapatan mencapai 19,1%. Namun, peningkatan pengeluaran sebesar 34,4% menyebabkan defisit Rp 180 triliun atau 0,7% hingga Mei 2026. Ashmore menilai bahwa stabilitas rupiah masih tergantung pada upaya pemerintah untuk memperkuat kredibilitas kebijakan moneter, seperti lelang SRBI yang menciptakan imbal hasil sebesar 7,21% meski jumlah diberikan lebih sedikit.
Ekonom menekankan pentingnya diversifikasi investasi dan fokus pada fondasi ekonomi yang kuat. “Volatilitas pasar masih diprediksi tinggi, tetapi kinerja fundamental dan valuasi yang didiskon menjadi titik masuk yang menarik,” kata sumber dalam riset Ashmore. Pemulihan kepercayaan investor juga bergantung pada transparansi terhadap implementasi kebijakan ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Sementara itu, pasar saham di Jakarta mengalami fluktuasi terkait dinamika harga minyak dan inflasi. Dalam kisaran pekan ini, IHSG mencatat aktivitas perdagangan yang menunjukkan pergerakan minor meski masih berada di bawah level tertinggi bulan lalu. Kondisi ini memperkuat tekanan pada rupiah yang terus mengalami pelemahan dari level 18.000 dolar AS.
Dalam situasi seperti ini, investor harus tetap waspada terhadap risiko eksternal dan fokus pada manajemen risiko internal. Dengan demikian, kebijakan pemerintah dan peran Bank Indonesia menjadi kunci untuk menjaga stabilitas keuangan secara nasional dan global.
Artikel Terkait
BI Rate Naik Lagi Mampu Tarik Dana Asing?
19 Juni 2026
Harga Perak Antam Hari Ini Naik Rp 200
8 Juni 2026
Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Naik atau Turun?
8 Juni 2026
Harga Emas Dunia Anjlok Tersengat Kekhawatiran Inflasi
4 Juni 2026
Harga Emas Pegadaian: Antam Stabil, UBS dan Galeri24 Kompak Turun
2 Juni 2026
Produksi Beras Indonesia Mendorong Rekor Puncak di Asia Tenggara Hari Ini
20 Juni 2026
BI Rate Meningkat Kembali, Masyarakat Mulai Ragu Pinjam ke Bank
20 Juni 2026
Pilih Rumah Baru! Jangan Lewatkan Langkah Penting Ini
20 Juni 2026
Memuat komentar...