Pelaku pasar keuangan global berharap penyelesaian konflik di Timur Tengah dapat segera terwujud.
PerbesarDirector of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
, Jakarta – Pasar keuangan global menghadapi ketidakpastian yang berkelanjutan seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah pada pekan ini. Hal itu membuat harga minyak tetap tinggi.
Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (7/6/2026), tantangan masih berasal dari Selat Hormuz yang masih terbatas untuk dilalui, sehingga menimbulkan tekanan yang semakin besar dengan gangguan pasokan yang berkepanjangan. Selain itu, kemungkinan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengingat masih ada isu-isu yang tidak sesuai dengan tuntutan masing-masing negara.
Di sisi lain, pada pekan ini sentimen yang signifikanpasar domestik di mana salah satu sumber ketidakpastiankebijakan yang diumumkan baru-baru ini. Parlemen mengesahkan undang-undang yang memperluas mandat Bank Indonesia (BI) di luar inflasi dan stabilitas mata uang untuk juga mencakup pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
“Meskipun hal ini dapat berdampak positif pada perekonomian secara keseluruhan dalam jangka panjang, investor masih mencerna risiko yang mungkin, seperti independensi bank sentral dan mengamati visibilitas lebih lanjut tentang bagaimana tujuan tersebut akan diimplementasikan dan apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran investor,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Ashmore menilai, hal itu dapat membantu memulihkan kepercayaan investor dan menjaga kredibilitas bank sentral. Sementara itu, dari data anggaran negara pada Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan naik 19,1% meski pengeluaran naik 34,4%. Hal itu menghasilkan defisit Rp 180 triliun atau 0,7% hingga Mei 2026.
“Dalam kondisi saat ini, skenario dasar kami untuk defisit fiskal tetap di bawah batas 3% pada 2026,”
Dibayangi Pelemahan Rupiah
PerbesarAktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (/Angga Yuniar)
Ashmore juga menilai, dalam kondisi saat ini, pasar masih khawatir tentang melemahnya rupiah yang telah melampaui 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
“Namun, kami terus melihat upaya dari pemerintah untuk menstabilkan mata uang. Lelang SRBI terbaru menunjukkan imbal hasil naik di atas 7ngan imbal hasil rata-rata tertimbang sebesar 7,21ngan peningkatan permintaan tetapi jumlah yang diberikan lebih sedikit yakni Rp 30 triliun,” demikian seperti dikutip.
Ashmore menilai, pasar akan terus mengamati bagaimana rupiah dapat bergerak dan menekankan pentingnya pemulihan kredibilitas yang lebih kuat. “Namun demikian, alasan utama melemahnya mata uang tersebut didorong ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, di samping faktor musiman,”
Dalam lingkungan saat ini, ekonomi global masih dalam posisi hati-hati dengan premi jangka waktu yang lebih tinggi.Pasar berharap penyelesaian konflik Timur Tengah yang lebih cepat dan masih mengamati peningkatan signifikan dalam arus barang yang melewati Selat Hormuz.
“Investor terus memantau klarifikasi lebih lanjut tentang aturan dan implementasi kebijakan ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di samping nada dari Bank Indonesia mengenai mandat barunya.Volatilitas diperkirakan tetap tinggi tetapi kami percaya bahwa berinvestasi pada fundamental yang kuat dan berkualitas tinggi tetap penting. Valuasi yang didiskon merupakan titik masuk yang menarik dan diversifikasi tetap harus dipertahankan,”
