Harga Perak Antam Hari Ini Naik Rp 200

BeritaLokal, Jakarta – Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada Senin (8/6/2026), mencerminkan penguatan harga perak global yang terjadi seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan hari itu, harga perak Antam naik Rp 200 menjadi Rp 45.800 per ounce, meski mengalami kenaikan kecil 0,47% menjadi US$ 67,57, menunjukkan sentimen positif terhadap logam mulia.

Penguatan harga perak dipengaruhi oleh anjloknya harga minyak dunia sebelumnya dan ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi. Harga perak mendekati US$ 68 per ounce pada hari ini, setelah mengalami penurunan hampir 10% pekan lalu. “Ketegangan di Timur Tengah terus berlangsung, memicu kenaikan harga minyak dan menunjukkan risiko inflasi,” kata seorang analis ekonomi.

Selain itu, konflik di Lebanon dan penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut mengganggu pasokan energi, meningkatkan tekanan pada harga minyak dan logam mulia. Dalam rangka mempertahankan stabilitas ekonomi, Bank Sentral AS (BIS) mungkin menaikkan suku bunga acuan untuk mengatasi kenaikan inflasi.

Sementara itu, prediksi harga emas dunia sepekan ke depan masih tergantung pada sentimen dolar Amerika Serikat (AS). Analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia akan bergerak antara USD 4.153 dan USD 4.560 per troy ounce, meski kemungkinan besar tertekan oleh penguatan dolar yang berdampak pada penurunan harga emas. “Jika dolar kembali melemah, harga emas dunia juga akan terpengaruh,” katanya.

Harga logam mulia seperti perak dan emas juga dipengaruhi kondisi ekonomi AS. Harga emas Antam naik Rp 13 juta menjadi Rp 2.665.000 per gram, meski masih berada di level support sebelumnya. “Ketahanan harga logam mulia bergantung pada pelemahan rupiah,” ujar Analis.

Pertumbuhan data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat menekankan ekspektasi Federal Reserve (Fed) untuk kenaikan suku bunga akhir tahun ini. Pasar memperkirakan sekitar 70% kemungkinan kenaikan suku bunga Fed pada Desember, naik dari 50% sebelum laporan pekerjaan. Kenaikan suku bunga dapat menekan harga logam mulia dan meningkatkan risiko inflasi.

Ketegangan geopolitik terus berlanjut, dengan Iran meluncurkan rudal ke arah Israel meskipun tidak ada korban jiwa dilaporkan. Sementara itu, konflik di Lebanon dan penutupan Selat Hormuz mengganggu pasokan energi, memperparah tekanan pada harga minyak dan logam mulia.

Artikel Terkait

0