Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Naik atau Turun?

BeritaLokal, Jakarta – Harga emas dunia diprediksi mengalami fluktuasi dalam sepekan ke depan, terutama karena dinamika penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang memengaruhi kinerja logam mulia. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rentang harga emas dunia akan berada di antara USD 4.153 per troy ounce hingga USD 4.560 per troy ounce, menurut analisisnya yang mendalami dampak kebijakan moneter AS.

“Ketika dolar kembali menguat, harga emas juga cenderung melemah,” kata Assuaibi. Hal ini disebabkan oleh kebijakan Bank Sentral AS yang memperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya, memperkuat dollar dan memengaruhi pasar logam mulia. Meski demikian, harga emas dunia masih memiliki potensi naik jika mencapai resisten di USD 4.384 dan USD 4.560 per troy ounce.

Dalam konteks pasar spot, harga emas dunia pada hari ini ditutup di USD 4.327 per troy ounce. Jika terjadi melemah, level “support” pertama akan menjadi USD 4.264, sedangkan “support” kedua adalah USD 4.153. Namun, jika harga naik, maka resisten yang lebih tinggi di atasnya tetap berlaku.

Selain emas, logam mulia seperti perak dan perak juga diprediksi bergerak di bawah level Rupiah. Ibrahim memperkirakan harga logam mulia akan menguat pada Rp 2.630.000 per gram, dengan “support” di Rp 2.708.000 dan “resistance” di Rp 2.830.000. Pergerakannya terkait pelemahan rupiah yang memperkuat kinerja logam mulia.

Di pasar lokal, harga emas batangan di Galeri 24 Pegadaian Jakarta pada Rabu (27/7) mencapai US$ 1.722,19 per troy ounce, naik sebesar 0,30 persen dari level sebelumnya. Pergerakan ini menggambarkan dinamika global yang terus berubah, dengan sentimen ekonomi dan kebijakan moneter menjadi faktor kunci dalam pergerakannya.

Sementara itu, harga logam mulia lainnya juga memperlihatkan tren melemah karena tekanan dari penguatan dolar. Analisis Ibrahim menekankan bahwa pelemahan rupiah berpotensi mendorong kinerja logam mulia lebih lanjut, terutama dalam skala global. Prediksi ini mencerminkan kebutuhan pasar untuk memantau perubahan ekonomi dan kebijakan moneter di masa depan.

Artikel Terkait

0