BeritaLokal, Jakarta – Bank Dunia memperingatkan perekonomian Indonesia menghadapi tantangan yang semakin besar pada 2026, meski aktivitas ekonomi masih ditopang konsumsi domestik yang kuat. Laporan terbaru dari lembaga internasional menunjukkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026, yang lebih rendah dibandingkan realisasi 5,1 persen pada 2025. Pertumbuhan ini diperkirakan akan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan 2028.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia awal tahun 2026 mengalami momentum kuat, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan di triwulan I 2026. Pada kuartalan pertama, perekonomian mencatat pertumbuhan tertinggi sejak 2021. Namun, momentum tersebut mulai menghadapi tekanan setelah muncul dua guncangan besar: meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Bank Dunia mengungkapkan bahwa tekanan global, termasuk pergeseran pasar keuangan dan krisis geopolitik, menjadi pendorong utama perlambatan ekonomi. Pemangku kepentingan menyoroti risiko yang berasal dari pelemahan rupiah, yang mengalami depresiasi sekitar 6 persen sejak awal tahun hingga Mei 2026. Pada awal Juni 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS, mencerminkan tekanan eksternal yang terus meningkat.
Arus keluar modal asing (FDI) mencapai sekitar US$ 1,7 miliar pada triwulan I 2026, atau 0,1 persen dari PDB. Selain itu, keputusan MSCI membatasi saham Indonesia dalam indeks global turut memperparah ketidakpastian pasar. Bank Dunia juga menekankan bahwa harga minyak Brent diperkirakan bertahan di kisaran US$ 94 per barel sepanjang 2026, sekitar US$ 24 lebih tinggi dibanding asumsi dalam APBN 2026.
Meski demikian, Bank Dunia menyebutkan Indonesia masih memiliki peluang mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen jika terus bergerak menuju reformasi struktural. Reformasi yang diperlukan mencakup peningkatan produktivitas, perbaikan iklim investasi, penguatan ruang fiskal, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas. “Tanpa reformasi yang mendorong produktivitas, skema insentif hanya akan meningkatkan pertumbuhan untuk sementara waktu dan sulit dipertahankan secara berkelanjutan,” kata Bank Dunia dalam laporan mereka.
Dampak tekanan global terhadap ekonomi Indonesia kian mengancam. Dengan kondisi ini, pemerintah dan masyarakat harus bersiap menghadapi perubahan struktural untuk menjamin stabilitas keuangan dan pertumbuhan berkelanjutan.