Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih betah di 18.000 meski menguat pada Jumat, (5/6/2026).
PerbesarTeller menunjukkan uang dolar dan rupiah di penukaran uang di Jakarta. (/Angga Yuniar)
, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Jumat, (5/6/2026). Analis menilai, penguatan rupiah itu didorong sentimen internal yakni respons positif terhadap kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Mengutip Antara, rupiah naik 13 poin atau 0,07 persen jadi 18.036 per dolar AS dari sebelumnya 18.049 per dolar AS.Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak ke 18.039 per dolar AS, sama seperti hari sebelumnya.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menuturkan, penguatan rupiah dipicu respons positif pasar atas laporan kinerja Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
“Pelaku pasar merespons positif laporan kinerja APBN walaupun masih defisit. Namun, kenaikan pajak tumbuh signifikan yang berarti ketergantungan pada utang mulai turun,” kata dia dikutip dari Antara.
Tercatat, penerimaan pajak menunjukkan kinerja positif per 31 Mei 2026, dengan nilai Rp 834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 683,3 triliun. Secara komponen, hampir seluruh komponen pajak mengalami pertumbuhan positif.
Penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan deposit PPh badan terealisasi sebesar Rp 167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen. Kemudian, PPh orang pribadi dan PPh 21 tercatat sebesar Rp123,1 triliun atau tumbuh 26 persen. Sementara PPh final, PPh 22, dan PPh 26 terhimpun Rp138,7 triliun atau tumbuh 5,2 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, pajak penghasilan atas badan dan orang pribadi yang tumbuh signifikan mencerminkan realitas penghasilan yang tumbuh.
Selain pajak penghasilan, komponen pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 41,3 persen dengan nilai Rp315,7 triliun.
Di samping itu, potensi Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan untuk meredam pelemahan rupiah dianggap menjadi faktor lain yang membuat kurs Garuda pada penutupan perdagangan hari ini menguat.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh BI membuat spread bunga dengan The Fed rate semakin melebar dan rupiah menjadi menarik lagi,” ujar Rully.
Faktor Pemicu Rupiah Melemah Jumat Pagi Ini
PerbesarSebelumnya, pada Selasa (5/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS. Tampak dalam foto, karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Rabu (5/5/2026). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 17 poin atau 0,09 persen menjadi 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.049 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan pelemahan rupiah dipicu data neraca perdagangan Indonesia (NPI) yang tak sesuai ekspektasi pasar.
“Sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah berasal dari sisi domestik, terutama setelah data neraca perdagangan Indonesia yang dirilis pada 2 Juni 2026 menunjukkan perdagangan April 2026 hanya mencapai US$ 0,09 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$ 3,32 miliar dan di bawah ekspektasi pasar,” ucapnya dikutip dari Antara, Jumat (5/6/2026).
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan berkurangnya pasokan devisa dari aktivitas perdagangan luar negeri, sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Melihat sisi eksternal, lanjutnya, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS di tengah tingginya ketidakpastian global dan masih menariknya aset berbasis dolar.
Selain itu, kekhawatiran investor terhadap independensi Bank Indonesia pasca pengesahan regulasi yang memperluas peran bank sentral dianggap menambah kehati-hatian pelaku pasar terhadap aset Indonesia.
Hal yang Perlu Dilakukan BI
PerbesarPegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (/Angga Yuniar)
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) disebut perlu melanjutkan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valas, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi secara terukur serta memastikan kecukupan likuiditas valuta asing.
“Sementara itu, pemerintah perlu memperkuat kepercayaan investor melalui konsistensi kebijakan ekonomi, menjaga kredibilitas fiskal, serta mendorong optimalisasi devisa hasil ekspor agar pasokan valas di dalam negeri tetap terjaga,” ungkap Amru.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan masih berada dalam tekanan pada kisaran 18.000-18.110 per dolar AS.
