OECD memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,7% pada 2026. Vietnam memimpin ASEAN dengan 6,5%, sementara Thailand mencatat pertumbuhan terendah.
PerbesarPemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (5/4/2022). Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 menjadi 5,1 persen pada April 2022, dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen pada Oktober 2021. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
, Jakarta – Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan Vietnam akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara sejumlah negara ASEAN pada 2026. Dalam OECD Economic Outlook Volume 2026 Issue 1, ekonomi Vietnam diproyeksikan tumbuh 6,5%, diikuti Indonesia 4,7%, Malaysia 4,2%, Filipina 3,2%, dan Thailand 1,7%.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa seluruh negara menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi global dan dampak konflik yang berkembang di Timur Tengah. Namun, tingkat ketahanan masing-masing negara berbeda tergantung struktur ekonomi, ketergantungan terhadap impor energi, serta kondisi permintaan domestik.
OECD mencatat Vietnam masih akan mencatat pertumbuhan paling kuat meskipun laju ekspansinya melambat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang didorong proyek sektor publik, serta ekspor yang masih ditunjang permintaan teknologi baru.
“PDB diproyeksikan tumbuh 6,5% pada 2026 dan 6,2% pada 2027. Konsumsi swasta akan tetap kuat karena pertumbuhan upah dan lapangan kerja yang solid, sementara pertumbuhan investasi akan didukung oleh proyek-proyek yang dipimpin sektor publik dalam rencana lima tahun yang baru,” tulis OECD mengenai Vietnam dikutip Kamis (4/6/2026).
Untuk Indonesia, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7% pada 2026 sebelum meningkat menjadi 5,0% pada 2027. Namun, kenaikan harga energi global, biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan akan membebani konsumsi serta investasi swasta.
“PDB riil diproyeksikan tumbuh sebesar 4,7% pada 2026 dan 5,0% pada 2027. Harga energi global yang lebih tinggi, meningkatnya biaya pinjaman setelah pengetatan kebijakan moneter baru-baru ini, dan ketidakpastian kebijakan yang masih tinggi diperkirakan akan menekan konsumsi dan investasi swasta di tengah pasar tenaga kerja yang melunak,” tulis OECD mengenai Indonesia.
Negara Lain
PerbesarSejumlah turis menyusuri Sungai Melaka di Melaka, Malaysia, 19 September 2020. Meski tidak lagi menjadi pusat penyaluran barang dagang, Melaka masih menarik minat banyak turis dari seluruh dunia seiring pariwisata menjadi pilar bagi ekonomi lokal. (Xinhua/Zhu Wei)
Sementara itu, Malaysia diproyeksikan membukukan pertumbuhan 4,2% pada 2026 dan meningkat menjadi 4,8% pada 2027. OECD menilai konsumsi domestik akan tetap kuat berkat kondisi pasar tenaga kerja yang baik, sementara investasi akan didukung sektor teknologi seperti semikonduktor.
Filipina diperkirakan menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi karena ketergantungannya terhadap impor energi. OECD memperkirakan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 3,2% pada 2026 sebelum pulih ke 5,0% pada 2027. Konsumsi rumah tangga diperkirakan melemah akibat inflasi yang lebih tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah.
Adapun Thailand diproyeksikan mencatat pertumbuhan terendah di antara negara-negara yang dibandingkan, yakni 1,7% pada 2026 dan 2,1% pada 2027. OECD menyebut perlambatan tersebut terutama dipengaruhi dampak konflik Timur Tengah terhadap perdagangan dan permintaan domestik.
“Pertumbuhan PDB diproyeksikan sebesar 1,7% pada 2026 akibat dampak ekonomi dari konflik yang berkembang di Timur Tengah. Ekspor dan investasi diperkirakan akan sangat lemah terutama pada kuartal kedua,” tulis OECD mengenai Thailand.
Kerentanan Terhadap Gejolak Energi Global
Laporan OECD juga menunjukkan perbedaan tingkat kerentanan terhadap gejolak energi global. Malaysia dinilai relatif lebih tahan karena merupakan eksportir energi bersih yang didukung ekspor gas alam, sedangkan Filipina dan Vietnam menghadapi risiko lebih besar karena ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi.
Indonesia berada di posisi yang lebih seimbang karena merupakan importir minyak mentah dan bahan bakar, namun tetap menjadi eksportir energi jika memperhitungkan ekspor batu bara dan gas.
Di sisi inflasi, OECD memperkirakan tekanan harga meningkat di sebagian besar negara ASEAN akibat kenaikan harga energi global. Inflasi Indonesia diproyeksikan mencapai 3,4% pada 2026, sementara Filipina diperkirakan mencatat rata-rata inflasi 6,8% dan Vietnam menghadapi inflasi yang tetap tinggi di tengah kenaikan biaya energi dan transportasi.
Secara keseluruhan, OECD memperkirakan Vietnam akan tetap menjadi motor pertumbuhan utama di kawasan ASEAN pada 2026, sementara Indonesia dan Malaysia berada pada kelompok pertumbuhan menengah, sedangkan Filipina dan Thailand menghadapi perlambatan yang lebih signifikan akibat tekanan inflasi, energi, dan ketidakpastian global.
