BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan jelang keputusan The Fed (Bank Sentral AS) yang akan mempertahankan suku bunga acuan. Pergerakan nilai tukar rupiah, yang sebelumnya menunjukkan perlemahan terus berlanjut hingga penutupan perdagangan Rabu (17/6/2026), mencerminkan kekhawatiran pasar terkait dinamika politik internasional dan arah kebijakan moneter di AS.
Analisis menunjukkan, tekanan rupiah terhadap dolar AS masih dipengaruhi perkembangan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan untuk memungkinkan Iran melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencaran senjata sementara negosiasi berlanjut, menjadi faktor utama. Namun, keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata masih tinggi karena proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang lama dan sikap Israel belum sepenuhnya mendukung kesepakatan tersebut.
Selain itu, pasar juga menanti hasil rapat kebijakan The Fed yang akan mempertahankan suku bunga acuan, meski investor mencermati proyeksi ekonomi terbaru serta arah kebijakan moneter di masa depan. Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang, mengatakan bahwa pasokan informasi tentang pelonggaran suku bunga pada akhir tahun ini sangat sensitif bagi pasar.
Dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung 17-18 Juni 2026. RDG kali ini menjadi sorotan karena BI telah menaikkan suku bunga atau BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. Ibrahim mengatakan langkah pengetatan kebijakan moneter menunjukkan komitmen BI dalam mencegah konflik terhadap kesehatan pasar keuangan dan nilai tukar.
Selain itu, Indonesia memperkuat diversifikasi sumber pasokan minyak melalui kontrak jangka panjang dengan negara-negara pemasok lain untuk mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Dengan strategi ini, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dalam perdagangan Kamis (18/6/2026), rupiah berpotensi melemah dalam kisaran 17.760-17.800 per dolar AS, meskipun masih tergantung pada sinyal kebijakan The Fed dan arah proyeksi ekonomi. Pasar sangat sensitif terhadap informasi tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran suku bunga di akhir tahun ini.
Sementara itu, pergerakan rupiah terhadap dolar AS terus dipantau oleh para pelaku pasar, yang mengantisipasi dampak dari dinamika politik internasional dan kebijakan moneter di AS. Kehilangan keseimbangan antara tekanan eksternal dan arah kebijakan internal menjadi titik perhatian utama bagi investor global.