Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.881 per Dolar AS

beritalokal.my.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat. Mata uang Garuda ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp 17.881 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.846 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia yang masih sangat fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut dia, pasar energi global masih dibayangi berbagai sentimen yang saling bertolak belakangperkembangan negosiasi gencatan senjata di kawasan Timur Tengah.

“Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata,” kata Ibrahim, Jumat (30/5/2026).

Sebelumnya, sentimen pasar sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut disebut menjadi bagian dari pembahasan lanjutanprogram nuklir Iran dan isu keamanan kawasan.

Harapan tercapainya kesepakatan itu sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Selain itu, muncul optimisme bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat kembali normal secara bertahap.

Meski demikian, volume lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut masih berada di bawah kondisi sebelum konflik. Akibatnya, premi risiko geopolitik masih membayangi pergerakan harga minyak dunia dan memengaruhi sentimen pasar keuangan.

 

Kebijakan The Fed Picu Arus Modal Keluar

PerbesarTeller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Selain faktor harga minyak, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sesuai ekspektasi pasar memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut membuat aset-aset keuangan di AS menjadi lebih menarik bagi investor global dibandingkan instrumen investasi di negara berkembang.

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai kebijakan suku bunga tinggi The Fed telah memicu keluarnya aliran modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik,” ujarnya.

Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dalam kurs referensi Bank Indonesia. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah pada Jumat bergerak melemah ke posisi Rp 17.883 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.789 per dolar AS.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global, terutama arah kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dunia.

error: Content is protected !!