BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 17 Juni 2026, mencatatkan pergerakan yang lebih dari sekadar fluktuatif. Dengan kisaran 17.690-17.728 per dolar, rupiah dibuka dalam kondisi lesu sebelum berpeluang menguat hari ini, menurut prediksi pasar yang didorong oleh optimisme terhadap stabilitas geopolitik global.
Selain itu, sentimen positif semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent jatuh ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, menunjukkan potensi pengurangan tekanan inflasi global. Pasar saham global juga menguat karena ekspektasi biaya energi yang lebih rendah dapat memperkuat pemulihan ekonomi di berbagai negara. Namun, investor masih menunggu kepastian implementasi perjanjian perdamaian antara Washington dan Teheran sebelumnya.
Fokus pasar juga beralih ke kebijakan bank sentral dunia. Bank Sentral Jepang (BOJ) telah meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%, level tertinggi dalam 31 tahun, sebagai langkah normalisasi moneter dan pengendalian inflasi di Jepang. Sementara itu, Bank Cadangan Australia mempertahankan suku bunga di level 4,35% setelah tiga kali kenaikan berturut-turut, menunjukkan sikap hati-hati terhadap ekonomi global.
Para pedagang kini menunggu pengumuman kebijakan dari Federal Reserve AS dan Bank of England akhir pekan ini. Pasar akan mengamati komentar Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa depan, kata para ekonom.
Selain itu, proyeksi rupiah terhadap dolar AS hari ini berada dalam rentang Rp 17.690-Rp 17.728, dengan risiko terbatas karena tekanan terhadap dolar AS mulai mereda. Dengan kebijakan bank sentral dan perkembangan geopolitik global yang mendukung stabilitas, rupiah berpotensi menguat lebih lanjut dalam perdagangan hari ini.
BeritaLokal, Jakarta