Kabar yang menyebut Indonesia akan turun status dari Emerging Market menjadi Frontier Market dalam klasifikasi dinilai tidak benar.
PerbesarPada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9% ke level 5.996,14. (/Herman Zakharia)
, Jakarta – Kabar yang menyebut Indonesia akan turun status dari Emerging Market menjadi Frontier Market dalam klasifikasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai tidak akurat.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menegaskan bahwa berdasarkan MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, Indonesia hingga saat ini masih berstatus Emerging Market.
“Kabar yang beredar bahwa Indonesia akan turun ke status MSCI Frontier Market tidak akurat. Berdasarkan MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, Indonesia hingga saat ini masih berstatus Emerging Market,” kata Hendra kepada, Jumat (5/6/2026).
Meski demikian, pasar saat ini menaruh perhatian besar pada dua agenda penting MSCI yang akan digelar bulan ini, yakni Global Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026. Kedua agenda tersebut dinilai akan menjadi penentu penting bagi persepsi investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Pasar kini menantikan dua agenda penting MSCI, yakni Global Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026,” ujarnya.
Di tengah klarifikasi mengenai status MSCI tersebut, Hendra menilai kondisi pasar domestik justru sedang menghadapi tekanan yang tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, terdapat perbedaan yang cukup lebar antara optimisme yang disampaikan pemerintah dengan respons yang ditunjukkan pelaku pasar.
Ia mengatakan, sebagian pejabat masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan solid. Namun di sisi lain, pasar menunjukkan sinyal yang berbeda melalui berbagai indikator keuangan yang terus mengalami tekanan.
“Pasar tidak membaca pidato, pasar membaca data. Dan data yang terlihat hari ini menunjukkan tekanan yang nyata terhadap aset keuangan domestik. Arus modal asing terus keluar, rupiah melemah, dan kepercayaan investor mengalami penurunan yang signifikan,” ujarnya.
Persoalan Utama Kredibilitas Kebijakan
PerbesarLayar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)
Hendra menilai persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini bukan semata-matapertumbuhan ekonomi, melainkan menyangkut kredibilitas kebijakan pemerintah. Investor, kata dia, membutuhkan kepastian mengenai arah fiskal, regulasi, dan keberpihakan pemerintah terhadap iklim investasi yang sehat.
Menurutnya, pasar membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar optimisme. Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang akan terkikis adalah kepercayaan investor.
“Pemerintah perlu menunjukkan langkah konkret untuk menjaga disiplin fiskal dan mengembalikan keyakinan investor. Program-program strategis tetap dapat dijalankan, namun perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan APBN,” pungkasnya.
