Bursa Asia melemah dipimpin anjloknya saham Korea Selatan setelah aksi jual sahamAI di Wall Street mengguncang sektor teknologi global.
PerbesarOrang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
, Jakarta – Bursa Asia bergerak melemah pada awal perdagangan Jumat, dipimpin oleh kejatuhan pasar saham Korea Selatan yang merosot lebih dari 4%.
Pelemahan ini mengikuti koreksi tajam saham-saham teknologi di Wall Street yangdengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Mengutip CNBC, Jumat (5/6/2026), Indeks Kospi Korea Selatan tercatat turun 4,11%. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi penyumbang utama tekanan pasar, dengan saham Samsung Electronics merosot sekitar 6% dan SK Hynix anjlok 8%.
Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melemah 2,41%.
Tekanan juga terlihat di pasar Jepang. Indeks acuan Nikkei 225 turun 1,1%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,2%.
Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng Index diperdagangkan di level 25.158, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di 25.253,40.
Pelemahan Bursa Asia terjadi setelah pergerakan beragam di pasar saham Amerika Serikat pada perdagangan Kamis waktu setempat.
Gerak Wall Street
PerbesarIndeks Dow Jones melonjak 874,86 poin atau 1,73% dan ditutup di level tertinggi sepanjang masa 51.561,93. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite turun 0,09% ke posisi 26.830,96. Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)
Indeks Dow Jones Industrial Average justru mencetak rekor tertinggi baru. Namun, indeks teknologi Nasdaq tertinggal karena investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham chip dan AI menuju sektor nonteknologi.
Indeks Dow Jones melonjak 874,86 poin atau 1,73% dan ditutup di level tertinggi sepanjang masa 51.561,93.
Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite turun 0,09% ke posisi 26.830,96. Adapun indeks S&P 500 masih mampu menguat 0,41% menjadi 7.584,31.
Perubahan arah investasi tersebut dipicu aksi jual besar-besaran pada saham Broadcom. Saham produsen chip itu merosot lebih dari 12% setelah pendapatan kuartal kedua fiskalnya berada di bawah ekspektasi pasar.
Koreksi Broadcom mendorong investor mengurangi eksposur pada saham-saham yang selama ini mendapat dorongan dari tren AI. Dampaknya, sejumlah saham chip ikut tertekan.
ETF sektor semikonduktor VanEck Semiconductor ETF turun lebih dari 1%. Saham Arm Holdings melemah lebih dari 4%, sementara Micron Technology kehilangan hampir 8%.
Kekhawatiran Timur Tengah
PerbesarEkspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). (AP Photo/Richard Drew)
Selain sentimen sektor teknologi, pasar saham global juga dibayangi kekhawatiransituasi di Timur Tengah. Negosiasi untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut masih memunculkan berbagai sinyal yang saling bertentangan.
Ketidakpastian tersebut mengguncang pasar keuangan global dan mendorong lonjakan harga minyak serta bahan bakar, sehingga menambah tekanan terhadap sentimen investor di Bursa Asia.
