BeritaLokal, Jakarta – Pergerakan harga bitcoin (BTC) pada Selasa, 16 Juni 2026, berada di zona hijau meski momentumnya masih melemah. Fenomena ini terkait dengan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diperkirakan mendukung pemulihan harga kripto, namun tidak menggantikan dampak global dari perubahan ekonomi dan politik.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap, harga bitcoin naik 0,61% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 66.338 atau Rp 1,17 miliar. Selama sepekan terakhir, harga kripto meroket 4,87%, memperlihatkan perubahan yang dinamis. Namun, meski ada peningkatan, momentum pemulihan masih lemah karena volume transaksi dan metrik on-chain (data blockchain) tetap stagnan.
Direktur Riset LVRG, Nick Ruck, mengatakan bahwa harga bitcoin mencapai US$ 67.000 pada Senin, tapi pergerakannya tidak stabil. “Volume transaksi turun dan metrik on-chain yang stagnan menunjukkan pemulihan ini kurang meyakinkan,” kata Ruck dalam wawancara dengan Cointelegraph. Ia menyebutkan bahwa ketidakstabilan geopolitik, termasuk konflik di Yaman dan situasi di Selat Hormuz, masih menjadi faktor utama memengaruhi harga kripto.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang ditandatangani pada Jumat di Swiss, berpotensi membuka Selat Hormuz. Namun, Trump mengatakan bahwa banyak detail kesepakatan belum tersedia, sehingga dampaknya masih terbatas. Sementara itu, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) telah merekrut Michael Selig sebagai kepala petugas inovasi data baru. Selig memimpin tim yang akan fokus pada regulasi dan penegakan hukum kripto, meski peran CFTC dan SEC masih dalam proses revisi.
Di sisi lain, pendiri Strategy Michael Saylor menambah 1.587 bitcoin senilai US$ 100 juta (Rp 1,77 triliun) pada 8-14 Juni 2026. Aksi ini memperkuat kepemilikan kripto dan menciptakan nilai rata-rata perusahaan sebesar US$ 75.656 atau Rp 1,3 miliar. Kini, Strategy menguasai 846.842 bitcoin dengan total nilai US$ 64,07 miliar (Rp 1.134 triliun), meski harga per bitcoin masih tergantung pada sentimen global.
Sementara itu, Swissblock menyebutkan bahwa momentum harga bitcoin tetap berada di zona melemah, dengan kekuatan pergerakan harga dan volume mengalami penurunan. Ruck menegaskan bahwa ketidakstabilan geopolitik dan risiko guncangan harga minyak bisa memicu fluktuasi harga kripto yang bergejolak.
Dengan demikian, pemulihan harga bitcoin masih tergantung pada dinamika global, termasuk perkembangan kebijakan AS-Iran dan dampak dari perubahan regulasi di industri kripto.