Bank Sentral Australia Tahan Suku Bunga, Waspadai Inflasi

BeritaLokal, Jakarta – Bank Sentral Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan di 4,35% dalam rapat kebijakan moneternya pada Selasa (16/6/2026), meski tidak mengubah keputusan tersebut. RBA menyatakan masih membuka peluang pengetatan jika tekanan inflasi belum mereda. Pemutusan ini dipertegas oleh pernyataan RBA bahwa inflasi terus berada di level yang tinggi, sehingga kenaikan suku bunga tetap menjadi prioritas.

Keputusan tersebut mendapat apresiasi dari pasar, dengan indeks saham S&P/ASX 200 melemah tipis dan dolar Australia turun 0,3% terhadap dolar AS ke level 0,705. RBA menegaskan bahwa proses normalisasi pasokan minyak global masih memerlukan waktu, meski Amerika Serikat dan Iran telah mengakhiri konflik yang mendorong gejolak pasar energi.

Dampak inflasi tetap menjadi perhatian utama RBA, dengan harga bahan bakar meningkat secara langsung serta menunjukkan potensi merambat ke harga barang lainnya. Inflasi tahunan Australia pada April 2026 turun menjadi 4,2%, tetapi masih di atas target RBA yang berada di kisaran 2%-3%.

Sementara ekonomi Australia melambat dari pertumbuhan 0,9% pada kuartal IV 2025 ke 0,3% pada kuartal I 2026. RBA memperingatkan risiko ketidakpastian global yang berkepanjangan dapat menekan aktivitas ekonomi, baik di Australia maupun negara-negara mitra dagangnya.

Selain itu, hubungan ekonomi Indonesia-Australia kian erat, dengan 35 delegasi bisnis asal Australia mengunjungi Jakarta dalam program “Kemitraan Bisnis Strategis dengan Indonesia.” Kedua negara menandai keberhasilan IA-CEPA (Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif) yang berlaku selama lima tahun, memperluas kerja sama di sektor perdagangan, investasi, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Volume perdagangan antara kedua negara meningkat hampir tiga kali lipat, mencapai 35 miliar dolar Australia atau sekitar Rp 381,5 triliun.

Investasi asing langsung dari Australia ke Indonesia melonjak 30% sejak penerapan IA-CEPA, dengan fokus pada pertanian dan ketahanan pangan. Kebijakan ini menjadi prioritas utama kedua negara dalam memperkuat kerja sama ekonomi.

Sumber: CNBC (dalam wawancara dengan Gita Kamath, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia).

error: Content is protected !!