Pelabuhan Benoa Jadi Marina Internasional, Relokasi Ikan

BeritaLokal, Denpasar – Pelabuhan Benoa Disulap Jadi Marina Internasional, 700 Kapal Ikan Direlokasi inilah fokus utama pemerintah Indonesia dalam menempatkan Bali sebagai pusat pariwisata maritim kelas dunia. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperjelas rencana ini pada kunjungan resminya ke Pelabuhan Benoa pada 21 Juli 2026. Menurutnya, transformasi ini dimulai dengan pemindahan rundingan perikanan sekitar 700 kapal ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di Kabupaten Jembrana, sekaligus menyiapkan infrastruktur marina mampu menyambut kapal pesiar dan yacht internasional. Akhir 2028 ditetapkan sebagai target operasional penuh, sementara proses perlambatan relokasi berlangsung di tahun 2027 sesuai kesiapan fasilitas pelabuhan baru.

Benoa Jadi Marina Internasional

Pembangunan Marina Internasional di Pelabuhan Benoa tidak hanya sekedar pembangunan fisik; ia merupakan bagian integral dari Bali Maritime Tourism Hub (BMTH). Pelindo, perusahaan pelabuhan yang memimpin proyek ini, berkolaborasi dengan badan pemerintah untuk memastikan bahwa setiap tahap konstruksi mematuhi standar keberlanjutan dan menghargai ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). AHY menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menjadikan Bali “sebuah pelabuhan pariwisata bahari di mana menggabungkan sektor wisata, perikanan, dan pelestarian lingkungan secara harmonis.” Pada waktu ini, para pengusaha perikanan berada di titik kritis, menilai dampak relokasi terhadap operasional mereka dan memastikan hak atas wilayah penangkapan ikan tetap terjaga.

Relokasi 700 Kapal Ikan

Kepala PPN Pengambengan, Kartono, memberikan gambaran konkret tentang jalur pelaksanaan relokasi kapal ikan. Sejak awal pandemi, sosialisasi sudah berlangsung dengan cermat kepada mantan pemilik kapal dan nelayan di Benoa. “Kami jamin prosesnya bertahap: kontrak pengalihan akan selesai pada akhir bulan ini, kemudian groundbreaking perbaikan fasilitas berjalan di minggu ketiga bulan Agustus, dan pemindahan fisik kapal dimulai di 2027,” ujarnya. Dengan jadwal tersebut, ketika marina mulai beroperasi pada 2028, seluruh kapal ikan beserta kantor perikanan akan berada di PPN Pengambengan, sementara jaringan penangkapan di wilayah asli tetap operasional. Langkah ini dipandang menjaga keberlanjutan aktivitas perikanan lokal serta membuka peluang baru bagi pelaku pariwisata marina.

Selain itu, AHY menekankan pentingnya aspek kebudayaan dan estetika alam Bali. Ia berharap desain marina tidak memudar penampilan visual pulau, meliputi penggunaan material ramah lingkungan dan penerapan prinsip feng shui agar harmoni budaya dan pelabuhan terjaga. Inisiatif ini diharapkan mampu menarik wisatawan internasional, khususnya pecinta kapal pesiar dan yacht, sekaligus memperkenalkan Bali sebagai “pemandangan maritim yang menopang kearifan lokal.” Rencana ambisius ini juga terlihat sejalan dengan visi Indonesia sebagai negara kepulauan dan pendorong maritim di Asia Tenggara.

Sementara proyek ini menapaki skala ekonomi besar, para nelayan dan perikanan menilai perubahan ini sebagai langkah evolusi, bukan pengrusakan. Kesediaan mereka dipengaruhi oleh jaminan bahwa lalulintas perikanan di wilayah asli tidak akan terpengaruh, sementara fasilitas pelabuhan akan lebih modern dan aman. Engkak, pelabuhan lama di Benoa menjadi pusat aktivitas resort, membuka peluang baru bagi industri pariwisata, restoran tepi laut, dan gerai souvenir yang berhubungan dengan budaya maritim. Keberhasilan transformasi ini, menambah nilai tambah bagi ekonomi lokal, juga dapat meningkatkan profil turisme balapan kapal dan event internasional di pelabuhan.

Kita dapat melihat ke depan, strategi ini meletakkan Bali pada posisi strategis untuk memfasilitasi rute pelayaran internasional. Diharapkan kebijakan ini akan menimbulkan dampak positif bagi industri maritim nasional, memperluas jangkauan pasar ekspor perikanan, dan memperkuat perekonomian pulau melalui pariwisata berbasis laut di mana kebudayaan dan alam adalah mata uangnya. Dalam konteks Indonesia yang terus memperburuk posisi kelayakan investasi tentang maritim, pelabuhan ini dapat menjadi contoh bagi proyek maritim lainnya. Dengan memahami bahwa keberhasilan Pelabuhan Benoa seluruhnya bergantung pada keseimbangan antara pembangunan, konservasi, dan inklusivitas stakeholder, proyek ini menandai percabangan penting bagi Bali dan Indonesia.

Artikel Terkait

0