BeritaLokal, Jakarta – Pembukaan kembali Selat Hormuz pada minggu lalu menjadi titik awal dalam upaya memulihkan pasokan minyak global, meski tantangan masih terasa melingkar. Dalam sebuah wawancara dengan analis energi, Helima Croft dari RBC Capital Markets mengungkapkan bahwa proses normalisasi pasokan membutuhkan waktu yang panjang dan perlu langkah-langkah konsisten untuk mencegah krisis terulang.
Meski harga minyak Brent turun tajam hingga US$ 80 per barel, analis seperti Croft menyatakan risiko kenaikan harga tetap memengaruhi pasar karena cadangan minyak dunia masih menipis. Menurut data Kpler, pasokan minyak dari Timur Tengah terganggu selama empat bulan konflik dan menghilangkan sekitar 1,15 miliar barel dari global. Stok minyak internasional telah menyusut sekitar 190 juta barel dalam beberapa bulan terakhir, sementara cadangan strategis IEA berada pada level terendah sejak 1990.
Pembukaan Selat Hormuz hanya langkah awal, kata Croft, yang membutuhkan perbaikan jalur pelayaran, operasional kapal tanker, dan peningkatan produksi minyak. Proses ini diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Analis Kpler, Matt Smith, menilai harga energi masih berpotensi naik dalam beberapa bulan mendatang karena pasar tetap bergantung pada cadangan yang terus menyusut.
Sementara itu, analis Macquarie Group Vikas Dwivedi mengatakan cadangan minyak memang menyusut, tapi pasar memiliki bantalan pasokan yang cukup. Stok bensin AS sekarang hanya 5% lebih rendah dibanding tahun lalu, sementara stok solar berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir. “Kita memiliki bantalan yang besar, dan sekarang bantalan itu sudah banyak terpakai,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, pembukaan Selat Hormuz justru memperkuat kekhawatiran bahwa krisis pasokan masih bisa muncul kembali. Meski harga minyak sempat turun tajam, analisis menunjukkan bahwa pasar tetap berada di bawah tekanan karena kekeringan cadangan yang terus berlangsung.