Kerjasama Oman-UK-Prancis: Pemeliharaan Jalur Strategis Selat Hormuz

BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah Oman sepakat bekerja sama dengan Inggris dan Prancis untuk menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak dan gas global. Kesepakatan ini muncul setelah lalu lintas pengiriman minyak kembali meningkat setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk membuka kembali jalur laut tersebut. Selain itu, langkah Inggris dan Prancis mendapat penolakan dari Iran yang mengklaim keamanan Selat Hormuz adalah tanggung jawab negara-negara pesisir, bukan kekuatan militer luar kawasan.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Oman dan Laut Arab, menjadi urut nadi ekonomi global. Dalam kesepakatan ini, Prancis telah mengirim dua kapal pemburu ranjau, dua fregat, dan satu pesawat patroli maritim ke Timur Tengah untuk mendukung keamanan pelayaran. Sebelumnya, lebih dari dua lusin negara juga menyatakan dukungan terhadap misi pengamanan jalur tersebut. Namun, Iran menolak langkah Inggris dan Prancis karena mereka menganggap bahwa krisis keamanan di wilayah ini adalah hasil dari aktivitas politik internasional.

Pemerintah Oman tetap melanjutkan dialog dengan Iran tentang pembentukan tatanan keamanan maritim baru. Kedua negara juga mengeksplorasi kemungkinan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Meski demikian, setiap kesepakatan akan mengacu pada hukum internasional. Arus ekspor minyak meningkat tajam sejak Jalur Hormuz dibuka kembali, menurut data Kpler, Arab Saudi telah mengirim sekitar 34 juta barel minyak melalui jalur tersebut sejak 17 Juni, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode 9 Maret hingga 17 Juni. Membaiknya distribusi minyak ikut menekan harga minyak Brent sekitar 39% dari puncaknya pada Maret.

Di sisi lain, AS menegaskan penolakannya terhadap rencana penerapan biaya transit di Selat Hormuz. Pemerintahan Donald Trump bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Oman apabila membantu Iran menerapkan kebijakan tersebut. Meski Trump mengklaim blokade laut AS selama perang berhasil menghentikan seluruh kapal menuju Iran, laporan Lloyd’s List menyebut armada bayangan Iran beberapa kali mampu menembus blokade.

Harga minyak dunia stabil sepanjang pekan ini. Harga Brent naik 14 sen atau 0,19% menjadi US$71,94 per barel, sementara harga WTI naik 9 sen atau 0,13% menjadi US$68,78 per barel. Pergerakan harga berlangsung relatif sepi karena pasar keuangan Amerika Serikat tutup menjelang libur Hari Kemerdekaan AS. Harga minyak sempat menyentuh level terendah sejak pecah perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari.

Analisis Commerzbank menilai optimisme investor terhadap pembukaan kembali secara penuh Selat Hormuz meningkat, sementara Citi mengkritik proses negosiasi antara AS dan Iran masih rapuh. “Proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih rapuh, tetapi hingga saat ini tetap berjalan. Persoalan mengenai tarif dan pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi isu yang diperdebatkan,” kata analis Citi.

Selat Hormuz mulai normal setelah kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena serangan Iran terhadap kapal kargo menyusul perang di Timur Tengah. Produksi minyak OPEC naik 3,3 juta barel per hari pada Juni, sementara produksi Kuwait menembus 1,65 juta barel per hari. Lima kapal tanker raksasa yang mengangkut total sekitar 10 juta barel minyak asal Arab Saudi telah meninggalkan Selat Hormuz. Saudi Aramco mulai melirik pasar spot untuk mempercepat distribusi minyak ke Asia.

Artikel Terkait

0